Pasang Surut Hubungan Prancis Dengan Dunia Islam, Atas Nama Kebebasan dan Sekularisme

Mawardi Tombang
Senin, 2 November 2020 10:54:26

KANALSUMATERA.com - Insiden Penikaman di Gereja Notre Dame, Basilicia, Nice, Prancis, yang menewaskan 3 orang yang sedang berdoa di gereja dengan menggunakan pisau pada Kamis (29/10/2020) sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Insiden ini terjadi 2 Pekan setelah insiden pemenggalan kepala oleh Abdoullah Abouyedovich Anzorov di Conflas-Sainte_Honorine yang menewaskan seorang guru bernama Samuel paty di Utara Perancis karena menunjukkan Kartun nabi Muhammad saat mengajar di kelas, 16 Oktober 2020 lalu.

Mengutip dari Kompas TV pernyataan dari Jean-Francois Ricard seorang Jaksa anti-Terorisme Perancis mengatakan bahwa pelaku penyerangan di gereja Notre Dame tak masuk Radar Badan Intelijen, pelaku penyerangan dibawa ke rumah sakit menjalani operasi karena luka parah. Identitas pelaku adalah warga Negara Tunisia yang lahir tahun 1999. Hasil investigasi awal dari dokumen yang ditemukan menunjukkan siapa profil pelaku.

“Jika kita diserang sekali lagi, nilai-nilai kita, rasa kebebasan kita, di tanah air kita dan untuk kepercayaan kita yang tidak akan menyerah pada teror. Dengan sangat jelas saya mengatakan sekali lagi, kita tidak akan menyerah pada teror” tegas Macron.

Dilansir Reuters, Minggu (1/11/2020), Macron sudah mengerahkan ribuan tentara untuk mengamankan situs-situs seperti rumah ibadah dan sekolahan dan para menteri telah memperingatkan bahwa serangan militer Islamis bisa terjadi lagi.

Tak hanya itu, Macron juga membuat klaifikasi di akun resmi media sosial Twitternya dalam Bahasa Arab _Emmanuel Macron (@Emmanuel Macron) “Saya ingin klarifikasi yang berikut: Apa yang kami lakukan sekarang di Perancis adalah memerangi terorisme yang dilakukan atas nama Islam bukan Islam itu sendiri. Terorisme ini telah merenggut nyawa lebih dari 300 warga” kata Macron.

Baca: Dior Tampilkan Kain Endek Bali Pada Paris Fashion Week

Pada 2 Oktober 2020 dalam pidato presiden Perancis Emmanuel Macron di Les Mureaux, Perancis di hadapan anggota dewan, kepala daerah dan perwakilan kelompok masyrakat sipil, presiden Macron menyampaikan pentingnya mempertahankan nilai-nilai mendasar di Perancis dan juga beberapa pernyataan terkait Islam dan Radikalisme. Tak hanya itu, Emmanuel Macron juga mengeluarkan kata-kata soal Islam yang menyingggung umat Muslim. Macron menyebut bahwa ancaman masyarakat Prancis adalah “Islam Separatis” yang merujuk pada sekelompok penganut Islam Ekstremis/Fanatik yang melenceng dari nilai-nilai republik. Ia juga menggambarkan Islam sebagai agama dalam krisis.

Akibat pernyataan-pernyataan yang menyinggung umat Islam inilah Emmanuel mendapat kecaman dari seluruh dunia yang dianggap telah menghina Islam. Sebelumnya Perancis juga mendapat sorotan tajam karena menolak mengutuk penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh Majalah Satire Perancis, Charlie Hebdo.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan juga menyatakan bahwa presiden Macron telah menyerang dan melukai sentiment jutaan umat Muslim Eropa dan Seluruh Dunia.

Dalam pidatonya Presiden Turki Recep Tayyip Edorgan (25/10/2020) mengkritik Emmanuel macron terkait kampanye untuk mempertahankan nilai sekularisme sikapnya terhadap Islam dan Muslim. Erdogan mengatakan bahwa Presiden Macron membutuhkan perawatan kesehatan mental. “Macron membutuhkan perawatan kesehatan mental, apa lagi yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang tidak memahami kebebasan berkeyakinan dan yang berperilaku seperti itu kepada jutaan orang yang tinggal di negaranya yang merupakan anggota dari agama yang berbeda. Pertama-tama, pemeriksaan mental itu (perlu),” tegas Edorgan.

Mengutip dari TAWAF TV bahwa kementrian Luar Negeri Republik Indonesia memanggil duta besar Perancis untuk Indonesia terkait sikap presiden Macron atas Kartun Nabi Muhammad SAW (Selasa, 27/10/2020). Di depan Oliver Chambard, Jakarta juru bicara Kemenlu Teuku Faizasyah menyampaikan kecamannya kepada presiden Perancis termuda.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (27/10/2020), Kementrian Luar Negeri Perancis merilis imbauan keamanan terbaru untuk warga negaranya yang ada di Indonesia, Bangladesh, Irak dan Mauritania. Setiap warga Negara Perancis yang ada di Negara-negara tersebut diimbau untuk lebih berhat-hati.

Pandangan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Jendral Ahmad Yani, Hikmahanto Juwana, dalam acara Sapa Indonesia Malam (30/10/2020) terkait kontroversi pernyataan presiden Prancis bahwa Pemerintah Perancis ingin menegakkan kebebasan berpendapat namun tidak bisa diterima oleh penduduk yang beragama Muslim. Karena kebebasan itu juga harus ada batasnya. Penghinaan agama ini tidak seharusnya didukung oleh presiden Perancis karena sudah melewati batas.

Hikmahanto Juwana juga mengatakan bahwa Emmanuel Macron salah pahami dunia islam. Nabi yang dijunjung oleh umat muslim dilecehkan karena membuat karikatur. Sehingga memicu reaksi dunia khususnnya masyarakat muslim yang tidak bisa lagi dikendalikan oleh pemerintahnya yang justru akan membahayakan Perancis. Segera ambil tindakan untuk meredamkan kejadian ini supaya tidak terjadi lagi insiden pembunuhan seperti sebelumnya.

Pemerintah Indonesia melalui pidato presiden Jokowi pada Sabtu (31/10/2020) yang disiarkan melalui Youtube Sekretariat Presiden bahwa telah mengecam keras pernyataan presiden Perancis Emmanuel Macron yang dianggap telah menghina dan melukai umat Islam di seluruh dunia yang bisa memecah belah persatuan antar umat beragama di dunia serta kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan nilai-nilai dan simbol agama yang tidak dibenarkan dan harus dihentikan. “Terorisme adalah terorisme, teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apapun” ujar Presiden Indonesia Jokowi Dodo dengan tegas.

Foto: Warga Palestina Memprotes Publikasi Kartun Nabi Muhamad Di Perancis Dan Komentar Presiden Emmanuel Macron, Setelah Salat Jumat di Kompleks yang Dikenal Umat Islam Sebagai Tempat Suci Mulia dan Bagi Orang Yahudi Sebagai Temple Mount di Kota Tua Yerussalem (30/10/20) .
Sumber Foto : REUTERS/AMMAR AWAD

Berita disajikan oleh Novi Arisafitri, Mahasiswa UIN Wali Songo Semarang

Lainnya
Ikan Jumbo Tanpa Ekor Terdampar di Pantai California
Ikan Jumbo Tanpa Ekor Terdampar di Pantai California
Pesawat Malaysia Airlines Mendarat Darurat di Bandara S
Wanita Ini Lahirkan 6 Bayi Perempuan dan 1 Laki-laki
PBB Tunggu Pemerintah Indonesia Beri Akses Ke Papua
Nasional
Jokowi Minta Mensos Segera Salurkan Bansos Mulai Awal Januari 2020
Jokowi Minta Mensos Segera Salurkan Bansos Mulai Awal Januari 2020
Menteri PPPA: Pandemi Perburuk Ketimpangan Gender, Pere
Relokasi UMKM Pulau Komodo Dikhawatirkan Berdampak Buru
Daerah
Bupati Kampar Apresiasi Program Camat Tambang Jonguok Desa Di Kualu.
Bupati Kampar Apresiasi Program Camat Tambang Jonguok Desa Di Kualu.
Ketua DPRD Kampar Salut Dengan Program Camat Tambang
Pengurus IMKT Periode 2020-2022 Resmi Dilantik
Budaya
Bupati Alfedri Berharap Generasi Muda Berperan Lestarikan Adat Tradisi
Bupati Alfedri Berharap Generasi Muda Berperan Lestarikan Adat Tradisi
Bupati Alfedri Berharap Generasi Muda Berperan Lestarik
Bupati Sukiman: Budaya Melayu Harus Dilestarikan dan Te
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Ekonomi
Mengenal Budi, Petani Asal Siak Yang Sukses di Bidang Holtikultura
Mengenal Budi, Petani Asal Siak Yang Sukses di Bidang Holtikultura
Perhatikan Warganya, Kades Padang Luas Ucapkan Terimaka
Sekda Siak: Apresiasi Baznas Tingkatkan Zakat Masa Pand
Leisure
Berikut 10 Jenis Sambal Khas Indonesia Bikin Makan Nambah Terus
Berikut 10 Jenis Sambal Khas Indonesia Bikin Makan Nambah Terus
Khawatir Dampak Corona, Wisatawan China Batal ke Istana
Ini Dampak Virus Corona bagi Wisatawan Bintan
Pendidikan
UIR Bina Mutu Akademik Penerima Beasiswa
UIR Bina Mutu Akademik Penerima Beasiswa
Asraf Abrian Juara Satu Lomba Baca Kitab Kuning Fraksi
Belajar Tatap Muka, Arnita Sari Sarankan Usai Angka Cov