Usai Rebut Ibukota, Taliban Segera Umumkan Negara Islamic Emirate of Afghanistan
KANALSUMATERA.com - Kabul - Taliban baru saja menduduki Ibu Kota Kabul dan merebut istana kepresidenan setelah sebulan lebih bertempur dan merebut sejumlah wilayah serta provinsi dari tangan aparat keamanan Afghanistan.
Usai merebut Ibukota, Taliban akan segera mendeklarasikan negara Emirat Islam Afghanistan dari istana kepresidenan di ibu kota, Kabul. Setelah beberapa hari ini Taliban berhasil menduduki beberapa daerah di Afghanistan.
Salah seorang pejabat Taliban menyebutka nama negara tersebut yaitu "Islamic Emirate of Afghanistan". Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk memberi tahu media.
Sementara itu, Ashraf Ghani selaku presiden Afghanistan yang resmi telah meninggalkan Afghanistan pada Ahad (15/8) setelah kemajuan pesat Taliban menguasai beberapa wilayah dan masuk ke ibu kota Kabul. Presiden Ghani meninggalkan negara itu beberapa jam setelah Taliban memasuki ibu kota. Belum jelas ke mana dia menuju, atau bagaimana kekuasaan akan dipulihkan.
Baca: Tenda Haji di Mina Siap, Menhaj Klaim Hemat Rp 180 M
Presiden terpilih pertama pada 2014, Ghani mengambil alih kepemimpinan Afghanistan dari Hamid Karzai, yang memimpin Afghanistan setelah invasi pimpinan AS pada 2001. Kala itu dia juga mengawasi penyelesaian misi tempur AS, penarikan pasukan asing yang hampir selesai dari negara itu, serta proses perdamaian yang kacau dengan pemberontak Taliban.
Dia menjadikan upaya untuk mengakhiri perang selama beberapa dekade sebagai prioritas utamanya. Ghani juga telah memulai pembicaraan damai dengan pemberontak di ibukota Qatar, Doha pada 2020.
Namun, Ghani, yang dikenal karena temperamennya yang cepat di samping pemikirannya yang dalam, tidak pernah diterima oleh Taliban dan pembicaraan damai hanya membuat sedikit kemajuan. Pemerintah asing frustrasi dengan lambatnya kemajuan pembicaraan, dan seruan tumbuh untuk pemerintah sementara untuk menggantikan pemerintahannya.
Selama masa kepresidenannya, ia berhasil menunjuk generasi baru pemuda Afghanistan yang berpendidikan ke dalam posisi kepemimpinan pada saat koridor kekuasaan negara itu ditempati oleh segelintir tokoh elite dan jaringan patronase.
