Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 392 Orang, Lebih dari 1.400 Masih Hilang
KANALSUMATERA.com - NEPAL — Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet kembali memperlihatkan dampak besar. Hingga Jumat (28/08/2026), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 392 orang.
Selain korban tewas, lebih dari 1.400 orang masih dilaporkan hilang. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di tengah kondisi wilayah yang dipenuhi lumpur dan material longsoran.
Bencana tersebut menerjang sejumlah permukiman hingga menyebabkan desa-desa tersapu material banjir. Gelombang air bercampur lumpur juga merusak rumah, jembatan, bendungan, serta menyeret kendaraan.
Baca: HNW Desak Tekanan Internasional Diperkuat Usai Israel Tolak Proposal Damai BoP
Menurut laporan AFP, tim penyelamat masih bekerja di lokasi bencana untuk menemukan warga yang belum diketahui keberadaannya. Kondisi medan yang sulit membuat proses pencarian dan evakuasi berlangsung tidak mudah.
Ratusan Warga dan Wisatawan Masih Hilang
Baca: Skandal Korupsi Irak Terbongkar, Rp430 Miliar Disembunyikan di Botol Air Mineral
Kepolisian Nepal menyebut sebanyak 389 jenazah telah berhasil dievakuasi. Sementara itu, 910 orang lainnya belum dapat dihubungi. Dari jumlah tersebut, 517 di antaranya merupakan wisatawan asing.
Pemerintah China juga menyampaikan adanya 100 warga negara Tiongkok yang masih hilang di Nepal. Wisatawan asal India menjadi salah satu kelompok terbesar dalam daftar orang yang belum ditemukan.
Amerika Serikat turut melaporkan 90 warganya masih belum dapat dihubungi setelah bencana melanda kawasan tersebut.
Baca: Sugiono Dijadwalkan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran pada 9 Juli
Di wilayah Tibet, China, kondisi serupa terjadi di Pelabuhan Gyirong. Media pemerintah setempat melaporkan tiga orang meninggal dunia akibat tanah longsor, sedangkan 558 orang lainnya dinyatakan hilang. Sebanyak 260 orang dari daftar tersebut merupakan warga asing.
Bencana Dipicu Runtuhnya Gletser
Baca: China Bangun 'Hong Kong' Baru Tak Jauh dari Indonesia, Nilai Mencapai Rp 1.760 Trilliun
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut bencana tersebut berkaitan dengan runtuhnya gletser. Material es dan puing dalam jumlah besar kemudian mengalir dan memicu banjir serta longsor dahsyat.
Para ahli juga mengingatkan adanya potensi banjir susulan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan terdampak masih menghadapi ancaman material longsoran dan aliran air yang dapat kembali bergerak.
Perubahan iklim turut menjadi sorotan karena pencairan gletser di berbagai wilayah dunia dinilai dapat meningkatkan risiko banjir danau glasial serta keruntuhan gletser.
Besarnya dampak bencana membuat proses pencarian korban masih menjadi prioritas. Tim penyelamat terus menyisir kawasan terdampak untuk menemukan warga maupun wisatawan yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. (SM)
