Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
KANALSUMATERA.com - CARACAS – Venezuela mengungkap kesepakatan energi dengan Amerika Serikat (AS) yang akan berlaku selama 25 tahun. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengembangkan sektor minyak sekaligus meningkatkan produksi minyak mentah Venezuela hingga lebih dari 1,5 juta barel per hari. Senin (31/08/2026).
Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan kesepakatan bilateral tersebut mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis. Pemerintah Venezuela berharap kerja sama itu dapat membantu memulihkan industri energi yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan akibat kurangnya investasi, persoalan pengelolaan, serta sanksi.
“Proyek bilateral yang berdurasi 25 tahun ini dengan pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari,” kata Rodriguez dalam siaran televisi pemerintah VTV.
Baca: Trump Klaim Kendali Minyak Venezuela, Rodriguez Tegaskan Sumber Daya Tetap Berdaulat
Menurut Rodriguez, target produksi 1,5 juta barel per hari tersebut merupakan bagian awal dari rencana yang lebih besar. Venezuela juga menyiapkan pengembangan delapan blok minyak baru di kawasan Orinoco Oil Belt.
Kerja sama dengan AS tersebut diproyeksikan memberikan pemasukan besar bagi pemerintah Venezuela. Rodriguez memperkirakan kesepakatan itu berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar US$209 miliar dengan menggunakan asumsi harga minyak US$65 per barel.
Baca: AS Pertimbangkan Ubah Sikap soal Falkland, Inggris Jadi Sorotan Trump
“Secara spesifik, ini berarti bahwa untuk setiap barel yang diproduksi dan dijual, sekitar $19 langsung masuk ke negara kami,” kata Rodriguez.
Ia menjelaskan skema kerja sama mencakup pembayaran royalti dan pajak keuntungan kepada negara. Untuk delapan blok baru yang dikembangkan di Sabuk Minyak Orinoco, royalti minimum disebut mencapai 16 persen, sementara pajak keuntungan ditetapkan sebesar 34 persen.
Dalam kerja sama tersebut, Venezuela menyediakan cadangan minyak, basis industri, serta pengalaman pengelolaan sektor energi. Sementara itu, Amerika Serikat menyediakan modal, teknologi, dan kemampuan operasional untuk membantu mengembangkan kembali aset-aset energi Venezuela.
Baca: Kim Jong Un Rombak Militer Korut, Kim Song-gi Jadi Menteri Pertahanan Baru
“Sebagai imbalannya, Venezuela memperoleh hasil produksi, lapangan kerja, investasi infrastruktur, pendapatan yang signifikan bagi negara, serta rantai pasok untuk industri nasional,” kata Rodriguez.
Venezuela Tegaskan Kedaulatan Sumber Daya Minyak
Baca: Mojtaba Khamenei Perintahkan Iran Kurangi Ketergantungan Dolar di Tengah Sanksi AS
Rodriguez menegaskan kerja sama dengan AS tidak berarti Venezuela kehilangan kepemilikan atas sumber daya alamnya. Pemerintah Caracas tetap menyatakan bahwa sumber daya minyak berada di bawah kepemilikan dan kedaulatan Venezuela.
Menurut dia, pemanfaatan modal serta teknologi asing diperlukan untuk menghidupkan kembali industri strategis yang terdampak berat oleh berbagai persoalan, termasuk sanksi internasional.
Kesepakatan tersebut juga menjadi bagian dari ambisi Venezuela untuk kembali memperkuat posisinya sebagai salah satu negara utama dalam industri energi dunia. Pemerintah Caracas tidak hanya menargetkan peningkatan produksi minyak, tetapi juga ingin memperbesar ekspor gas dan mengembangkan industri petrokimia nasional.
Baca: Wapres Tanzania Mundur Usai Bersitegang dengan Presiden, Jadi yang Pertama dalam Sejarah
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana peningkatan keterlibatan perusahaan Amerika dalam sektor minyak Venezuela. Trump menyebut AS memperoleh kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kemitraan dengan perusahaan swasta.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun, produksi negara tersebut masih berada di bawah potensinya dan diperkirakan sekitar 1,25 juta barel per hari.
Baca: PM Nepal Balendra Shah Tolak Tim SAR Asing, Sosok Eks Rapper Jadi Sorotan
Pemerintah Venezuela kini bersiap memberikan hak eksplorasi dan produksi baru kepada sejumlah perusahaan. Salah satu perusahaan yang disebut dalam proses transisi menuju kerangka energi baru tersebut adalah Chevron.
Dengan masa berlaku mencapai 25 tahun, kesepakatan Venezuela-AS ini menjadi salah satu langkah penting Caracas untuk menarik investasi, meningkatkan produksi minyak, dan memperbesar penerimaan negara dari sektor energi. (SM)
