Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mundur Setelah Berbulan-bulan Diguncang Demonstrasi
KANALSUMATERA.com - BEOGRAD — Presiden Serbia Aleksandar Vucic resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden pada Minggu (27/09/2026). Keputusan tersebut diambil ketika pemerintahannya menghadapi tekanan politik dan gelombang demonstrasi yang dipimpin gerakan mahasiswa.
Vucic menyampaikan keputusan tersebut dari Istana Kepresidenan di Beograd. Ia mengatakan surat pengunduran dirinya akan diserahkan kepada Ketua Parlemen Serbia, Ana Brnabic, pada Senin (28/09/2026).
"Saya mengundurkan diri sebagai presiden," kata Vucic kepada para pendukungnya.
Baca: Pilot Flydubai Smit Machchhar Ungkap Perjuangan Melawan Kopilot di Udara
"Besok (Senin) pagi saya akan menyerahkan tugas saya kepada ketua parlemen."
Pengunduran diri tersebut membuat Vucic meninggalkan kursi kepresidenan sekitar tujuh bulan sebelum masa jabatan keduanya berakhir pada 2027. Namun, langkah tersebut tidak serta-merta mengakhiri kiprahnya di politik Serbia.
Baca: Delegasi Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Mulai Pidato di PBB
Vucic justru bersiap mengikuti pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober 2026. Ia maju bersama Partai Progresif Serbia (SNS) dengan peluang untuk mengejar posisi perdana menteri apabila partainya berhasil membentuk pemerintahan.
"Saya melayani Anda semua dan tanah air Serbia dengan setia, terhormat, dan jujur selama masa jabatan saya. Perjuangan baru saja dimulai," ujarnya.
Demo Mahasiswa Jadi Sorotan
Baca: Trump Kembali Berulah, Nama New Mexico Diusulkan Jadi New America
Pengunduran diri Vucic berlangsung setelah Serbia diguncang demonstrasi mahasiswa selama hampir dua tahun.
Gerakan tersebut bermula setelah kanopi sebuah stasiun kereta api di Novi Sad runtuh pada November 2024. Insiden itu menewaskan 16 orang dan kemudian memicu tuntutan mahasiswa agar pemerintah membuka pertanggungjawaban serta memastikan penegakan hukum.
Baca: Iran Tangkap Pengibar Bendera MEK, Aparat Klaim Semua yang Terekam Video Sudah Ditahan
Aksi mahasiswa selanjutnya berkembang menjadi gerakan nasional yang menyoroti isu korupsi dan dominasi politik SNS. Partai tersebut telah memegang kekuasaan di Serbia sejak 2012, sementara Vucic menjadi salah satu tokoh utama politik negara itu selama sekitar 12 tahun.
Pemerintah Serbia dan SNS membantah tuduhan terkait penyalahgunaan kekuasaan yang diarahkan kepada mereka.
Ana Brnabic Jalankan Tugas Presiden Sementara
Baca: Malaysia Tetapkan Darurat Asap, Kemlu RI Tegaskan Penanganan Karhutla Terus Dikebut
Setelah pengunduran diri Vucic berlaku, Ana Brnabic akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara Serbia. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, pemilihan presiden baru harus digelar paling lambat dalam waktu tiga bulan.
Sementara itu, pemilu parlemen pada 25 Oktober akan mempertemukan SNS dengan sejumlah kekuatan politik lain, termasuk kelompok yang mendapat dukungan dari gerakan mahasiswa, Partai Sosialis, aliansi oposisi pro-Uni Eropa, serta kelompok politik lainnya.
Baca: Iran Ancam Balas Serangan AS di Pesta Pernikahan, 4 Orang Tewas
Dengan pengunduran dirinya, Vucic tidak lagi dapat mencalonkan diri sebagai presiden untuk periode ketiga karena konstitusi Serbia membatasi masa jabatan presiden.
Langkah tersebut membuka jalan baginya untuk tetap berkiprah dalam pemerintahan melalui posisi perdana menteri, bergantung pada hasil pemilu parlemen dan pembentukan pemerintahan berikutnya. (SM)
