Intelijen Ukraina Ungkap 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina atau Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU) mengungkap identitas delapan warga negara Indonesia (WNI) yang disebut direkrut untuk bergabung dengan pasukan Rusia di tengah perang Rusia-Ukraina. Selasa (01/09/2026).
Informasi tersebut disampaikan FISU melalui pernyataan resminya. Intelijen Ukraina mengklaim telah memperoleh sejumlah dokumen yang berkaitan dengan proses perekrutan dan perjalanan para WNI tersebut ke Rusia.
"Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina telah memperoleh dokumen tentang setidaknya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan RF," demikian pernyataan FISU.
Baca: Dan Driscoll Mundur dari Sekretaris Angkatan Darat AS di Tengah Konflik dengan Hegseth
Berdasarkan data yang dipublikasikan FISU, kedelapan WNI tersebut berusia antara 29 hingga 47 tahun. Nama-nama yang tercantum dalam dokumen itu yakni:
Yuda Putra Pratama, lahir 9 Agustus 1997.
Baca: Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
Haryanto Dwi Kencana, lahir 14 Juli 1983.
Erwanda, lahir 5 Agustus 1988.
Ngangun Hudri Fadli, lahir 17 September 1978.
Baca: Trump Klaim Kendali Minyak Venezuela, Rodriguez Tegaskan Sumber Daya Tetap Berdaulat
Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994.
M Hadi Maulana, lahir 7 April 1987.
Baca: AS Pertimbangkan Ubah Sikap soal Falkland, Inggris Jadi Sorotan Trump
Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985.
Helmi Nuraha Hakim, lahir 27 Januari 1983.
FISU menyebut para WNI tersebut diduga direkrut melalui tawaran pekerjaan dengan sejumlah iming-iming. Tawaran itu antara lain gaji tinggi, pekerjaan non-tempur, kesempatan memperoleh kewarganegaraan Rusia lebih cepat, serta berbagai tunjangan sosial.
Baca: Kim Jong Un Rombak Militer Korut, Kim Song-gi Jadi Menteri Pertahanan Baru
"Janji berupa bayaran tinggi, tugas non-tempur, percepatan kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial menarik minat orang-orang yang-sering kali-tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka akan dikirim," tulis FISU.
Menurut FISU, pola perekrutan tersebut sebelumnya juga disebut terjadi terhadap warga negara dari sejumlah negara lain. Sebagian orang yang direkrut dengan tawaran pekerjaan kemudian dilaporkan berakhir di medan perang.
Baca: Mojtaba Khamenei Perintahkan Iran Kurangi Ketergantungan Dolar di Tengah Sanksi AS
Kemlu RI Masih Verifikasi
Pemerintah Indonesia belum menyatakan bahwa seluruh informasi tersebut telah terbukti. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI saat ini melakukan verifikasi melalui perwakilan Indonesia di Rusia dan berkoordinasi dengan kementerian serta lembaga terkait.
Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan hingga bentuk keterlibatan individu yang disebut dalam laporan tersebut masih harus dipastikan.
Baca: Wapres Tanzania Mundur Usai Bersitegang dengan Presiden, Jadi yang Pertama dalam Sejarah
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne.
Pemerintah juga akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan atau eksploitasi apabila para WNI tersebut memang direkrut melalui tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya.
Baca: PM Nepal Balendra Shah Tolak Tim SAR Asing, Sosok Eks Rapper Jadi Sorotan
Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut berdasarkan informasi yang diterima dari otoritas intelijen Indonesia, perekrutan tersebut diduga dilakukan melalui negara pihak ketiga dengan modus menawarkan pekerjaan tertentu dan iming-iming gaji besar.
"Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar," kata Dasco.
Hingga kini, pemerintah masih menunggu hasil verifikasi untuk memastikan apakah delapan nama yang dirilis FISU benar merupakan WNI yang direkrut dan sejauh mana keterlibatan mereka dalam militer Rusia. (SM)
