Kopilot Flydubai Serang Pilot Pakai Kapak, Identitas dan Dugaan Motif Terungkap
KANALSUMATERA.com - ABU DHABI – Insiden menegangkan terjadi dalam penerbangan Flydubai rute Dubai menuju Tel Aviv. Seorang kopilot diduga menyerang pilot utama menggunakan kapak darurat di dalam kokpit dan berupaya mengambil alih kendali pesawat. Senin (05/10/2026).
Pesawat Flydubai dengan nomor penerbangan FZ1073 tersebut membawa lebih dari 170 orang. Sekitar dua setengah jam setelah lepas landas dari Bandara Internasional Dubai, pesawat tiba-tiba mengalami penurunan ketinggian hingga sekitar 17.000 kaki atau 5.200 meter.
Situasi semakin genting setelah pesawat mengirimkan kode darurat 7700, kemudian berubah menjadi kode 7500 yang menandakan adanya gangguan atau pembajakan.
Baca: Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mundur Setelah Berbulan-bulan Diguncang Demonstrasi
Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA), Hamad Saif Al Shamsi, menyebut kopilot tersebut melakukan serangan terhadap pilot dan berusaha mengambil alih kendali pesawat dalam apa yang disebut sebagai "aksi terorisme".
Kapten Smit Machchhar, pilot asal India yang menjadi korban, mengalami luka dalam serangan tersebut. Meski terluka, ia berupaya membuka pintu kokpit dari dalam sehingga sejumlah penumpang dapat masuk dan memberikan pertolongan.
Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama
"Saya berkata kepada diri sendiri untuk melakukan satu upaya terakhir guna membuka pintu dari dalam," katanya.
Setelah penumpang berhasil masuk, pelaku dapat dilumpuhkan. Dua pilot cadangan yang kebetulan berada di dalam pesawat kemudian membantu mengambil alih kendali penerbangan.
Pesawat akhirnya dialihkan dan mendarat dengan selamat di Bandara Tabuk, Arab Saudi.
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
Sosok Kopilot Mulai Terungkap
Kopilot yang diduga melakukan serangan diketahui merupakan warga negara Oman. Sejumlah media internasional, termasuk Reuters, CNN dan The New York Times, menyebut namanya sebagai Hamam al-Hammami.
Baca: Iran Tangkap Pengibar Bendera MEK, Aparat Klaim Semua yang Terekam Video Sudah Ditahan
Meski demikian, identitas tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh seluruh pihak terkait.
Al-Hammami disebut pernah bekerja di Oman Air selama sekitar tujuh tahun. Sejumlah sumber yang dikutip media internasional menyebut dirinya pernah dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena adanya kekhawatiran terkait pandangan radikal.
Ia kemudian disebut mendapat posisi lain di maskapai tersebut.
Baca: JD Vance Soroti Rekam Jejak Perang AS: Hampir Tak Pernah Menang Selama 42 Tahun
Rekam jejak pekerjaan al-Hammami juga menjadi perhatian dalam penyelidikan. Setelah meninggalkan Oman Air, ia disebut pernah menjalani pelatihan bersama Royal Air Maroc sebelum akhirnya bekerja di Flydubai.
Profil LinkedIn yang diduga miliknya kini telah dihapus. Sementara itu, Flydubai belum memberikan keterangan rinci mengenai latar belakang kopilot tersebut karena penyelidikan masih berlangsung.
Baca: Volkswagen Siapkan PHK 100.000 Karyawan, Tarif Trump dan China Jadi Tekanan
Dugaan Motif Masih Diselidiki
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyebut pelaku diduga telah mengalami "indoktrinasi radikal Islamis".
Saat berhasil dilumpuhkan, pelaku disebut sempat berteriak kepada awak pesawat: "Bunuh saya, bunuh saya!"
Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran
Netanyahu kemudian mengatakan: "Jadi, jelas bahwa dia berniat bunuh diri... Tampaknya sangat mungkin dia berniat menjatuhkan pesawat itu."
Namun, dugaan motif tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan. Jaksa Agung UEA menyatakan penyidik masih berupaya mengungkap seluruh keadaan, motif, serta kemungkinan adanya keterkaitan dengan pihak lain.
Baca: JD Vance Tegaskan Konflik AS-Iran Bukan Perang, Negosiasi Masih Buntu
Otoritas Australia juga dilaporkan menyelidiki keterkaitan al-Hammami dengan negara tersebut. Ia disebut pernah memperoleh visa pelajar dan tinggal di Australia sebelum melanjutkan pendidikan.
Di Inggris, al-Hammami diketahui menyelesaikan pendidikan manajemen penerbangan melalui program jarak jauh di Buckinghamshire New University dan lulus pada 2023. Universitas tersebut menegaskan bahwa al-Hammami tidak menjalani pelatihan pilot di institusi itu.
Pilot dan Penumpang Berhasil Cegah Bencana
Baca: Netanyahu Tegaskan Pasukan Israel Tak Mundur dari Gaza, Klaim Kuasai 60 Persen Wilayah
Keselamatan penerbangan tersebut akhirnya berhasil dipertahankan setelah kapten yang terluka membuka pintu kokpit dan memungkinkan penumpang membantu melumpuhkan pelaku.
Salah satu penumpang, Yaniv Hayun, mengatakan pelaku berusaha merusak instrumen pesawat sehingga penerbangan tidak dapat dikendalikan.
Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142
Hayun bersama penumpang lainnya kemudian membantu mengamankan pelaku dan menjaga pesawat tetap stabil sampai pilot lain mengambil alih kendali.
Kapten Machchhar kemudian mendapatkan perawatan medis. Kedutaan Besar India di UEA menyatakan kondisi pilot tersebut stabil dan terus membaik.
"Saya yakin saya akan pulih dan kembali sehat serta bugar," kata Machchhar.
Baca: AS Serang Dua Kapal Tanker Iran, Kebijakan “Tanker for Tanker” Trump Mulai Diterapkan
Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan penerbangan, pemeriksaan latar belakang awak pesawat, serta prosedur pengamanan pada penerbangan menuju Israel. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kronologi, motif dan kemungkinan adanya pihak lain di balik insiden tersebut. (SM)
