Iran Tawarkan Mediasi Konflik Arab Saudi-Houthi, Riyadh dan Sanaa Belum Merespons
KANALSUMATERA.com - TEHERAN – Upaya Iran untuk menjadi mediator dalam konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman belum memperoleh tanggapan dari kedua pihak. Tawaran diplomasi tersebut muncul ketika ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat akibat serangkaian serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Rabu (21/10/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa pemerintahnya belum menerima jawaban dari Riyadh maupun kelompok Houthi terkait usulan untuk memfasilitasi perundingan guna menghentikan pertempuran.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Ekhbariya di Irak yang disiarkan pada Selasa (20/10/2026).
Baca: Diisukan Meninggal akibat Pendarahan Otak, Kim Jong-un Muncul di Pameran Fashion
Iran menyatakan kesediaannya membantu membuka jalur komunikasi antara kedua pihak. Namun, belum adanya respons membuat kelanjutan upaya mediasi tersebut masih belum jelas.
Iran Peringatkan Dampak Intervensi Asing
Baca: Demo Paris Berujung Rusuh, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terlibat
Selain membahas tawaran mediasi, Araghchi turut menanggapi kemungkinan Mesir memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi dalam konflik melawan kelompok Houthi.
Ia memperingatkan bahwa keterlibatan negara lain berpotensi memperumit situasi dan memperbesar risiko konflik di kawasan.
"semakin memperumit situasi".
Baca: Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, KBRI Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban
Araghchi juga menyebut bahwa pemerintah Mesir sebelumnya telah menyampaikan kepada Teheran bahwa Kairo tidak akan “terlibat langsung” dalam pertempuran di Yaman.
Meski demikian, Mesir sebelumnya menyatakan kesiapannya memberikan dukungan yang diperlukan untuk membantu Arab Saudi mempertahankan keamanan negaranya.
Baca: Dana Pendidikan Prancis Melimpah, Kekurangan Guru Picu Gelombang Protes
Perkembangan ini menjadi perhatian karena keterlibatan negara-negara lain dapat memperluas konflik yang selama ini berpusat di Yaman dan melibatkan kepentingan sejumlah kekuatan regional.
Keputusan Parlemen Mesir Ditunda
Di tengah meningkatnya ketegangan, parlemen Mesir menunda pemungutan suara mengenai kemungkinan pemberian wewenang kepada angkatan bersenjata untuk mendukung Arab Saudi dalam menghadapi kelompok Houthi.
Baca: Demo Pelajar di Prancis Makin Memanas, 488 Orang Ditangkap dan 43 Aparat Terluka
Pemungutan suara tersebut dijadwalkan kembali pada 26 Oktober 2026.
Keputusan itu menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu dicermati karena langkah Mesir dapat memengaruhi dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
Baca: Delegasi Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Mulai Pidato di PBB
Sementara itu, kelompok Houthi dilaporkan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi sejak awal Oktober. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran akan terjadinya eskalasi militer yang lebih luas.
Tawaran Mediasi Iran Masih Menunggu Kepastian
Tawaran Iran untuk menengahi konflik Arab Saudi-Houthi berlangsung dalam situasi diplomatik yang rumit. Teheran memiliki hubungan dengan kelompok Houthi, sementara Riyadh memandang serangan terhadap wilayahnya sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama
Di sisi lain, belum adanya tanggapan resmi dari kedua pihak terhadap tawaran mediasi Iran membuat peluang perundingan damai belum dapat dipastikan.
Jalur diplomasi masih menjadi salah satu opsi untuk meredakan ketegangan. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kesediaan pihak-pihak yang bertikai untuk membuka komunikasi dan mencari penyelesaian politik.
Baca: Prabowo Tiba di New Delhi, KTT BRICS Jadi Panggung Strategis Indonesia
Perkembangan selanjutnya, termasuk keputusan parlemen Mesir pada 26 Oktober, berpotensi memengaruhi arah konflik Arab Saudi-Houthi serta stabilitas kawasan Timur Tengah. (SM)
