Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem, Balasan atas Sanksi Permukiman Tepi Barat
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Hubungan diplomatik Israel dan Inggris kembali memanas. Pemerintah Israel memutuskan menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur sebagai respons atas kebijakan sanksi yang diberlakukan London terhadap aktivitas perdagangan dari permukiman Israel di Tepi Barat. Selasa (08/09/2026).
Keputusan tersebut diumumkan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar. Langkah ini menjadi bagian dari serangkaian tindakan balasan Israel setelah Inggris bersama sejumlah negara lain mengambil kebijakan pembatasan perdagangan terhadap permukiman Israel di wilayah Tepi Barat.
Selain menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur, Israel juga menyatakan akan mengeluarkan perwakilan Inggris dari pusat koordinasi terkait rencana gencatan senjata di Gaza yang dimediasi Amerika Serikat.
Baca: Inggris Mulai Jaga Jarak dengan Israel, Dukungan ke Palestina Makin Tegas
Israel juga menghentikan keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan keamanan Otoritas Palestina. Tak hanya itu, sebanyak 12 warga negara Inggris, yang sebagian di antaranya merupakan anggota parlemen, akan dilarang memasuki Israel.
Israel Kritik Keras Kebijakan Inggris
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
Gideon Saar mengecam keras pernyataan dan kebijakan pemerintah Inggris. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menuduh pemukim Israel melakukan pembersihan etnis terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
"Tuduhan yang disampaikan hari ini oleh menteri luar negeri di Parlemen Inggris adalah kebohongan yang keterlaluan," ujar Menteri Luar Negeri Gideon Saar.
Saar juga menilai keputusan Inggris tidak dapat dibenarkan karena dianggap mencampuri urusan internal Israel, terlebih menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.
Baca: Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Bandara Miami, Tabrak Kendaraan hingga Terbakar
"Langkah Inggris ini secara moral keliru dan merupakan campur tangan terang-terangan dalam urusan negara berdaulat serta proses pemilihannya," katanya.
Menurut Saar, penutupan konsulat Inggris tersebut berkaitan langsung dengan posisi Israel mengenai Yerusalem. Pemerintah Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota yang berada di bawah kedaulatannya.
Baca: Inggris Murka, Anak Netanyahu Ikut Campur Sengketa Falkland dengan Argentina
"Yerusalem yang bersatu adalah ibu kota Israel dan berada di bawah kedaulatan penuhnya," tegas Saar.
Ia menambahkan:
"Setiap aktivitas asing di wilayah tersebut harus dilakukan melalui saluran yang diterima dan disepakati, serta tanpa melanggar kedaulatan Israel."
Baca: Iran Ancam Balas Serangan AS di Pesta Pernikahan, 4 Orang Tewas
Inggris dan Sejumlah Negara Jatuhkan Sanksi
Ketegangan terbaru ini bermula setelah Inggris, Kanada, Prancis dan sejumlah negara lainnya mengumumkan langkah pembatasan perdagangan terhadap barang yang berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat.
Baca: Pengadilan Filipina Terbitkan Surat Perintah Tangkap Sara Duterte, Kasus Ancam Presiden Jadi Sorotan
Kebijakan tersebut diambil di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina serta ekspansi permukiman di wilayah yang diduduki.
Inggris menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk mempertahankan prospek solusi dua negara dan menekan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat. Sejumlah negara lainnya turut mendukung langkah tersebut.
Sebaliknya, Israel menilai kebijakan negara-negara tersebut sebagai bentuk tekanan politik dan campur tangan terhadap urusan dalam negeri.
Baca: JD Vance Soroti Rekam Jejak Perang AS: Hampir Tak Pernah Menang Selama 42 Tahun
Konsulat Inggris Berada di Yerusalem Timur
Konsulat Inggris yang menjadi sasaran keputusan Israel berada di Yerusalem Timur dan selama ini memiliki peran penting dalam menangani berbagai persoalan yang berkaitan dengan Palestina, termasuk wilayah Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem.
Baca: Volkswagen Siapkan PHK 100.000 Karyawan, Tarif Trump dan China Jadi Tekanan
Kedutaan Besar Inggris untuk Israel sendiri berada di Tel Aviv.
Status Yerusalem Timur menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Israel menguasai wilayah tersebut setelah Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian menyatakan seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya.
Namun, sebagian besar negara di dunia, termasuk Inggris, tidak mengakui kedaulatan Israel atas Yerusalem Timur.
Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142
Israel Siapkan Pembatasan terhadap Warga Inggris
Selain penutupan konsulat, Kementerian Luar Negeri Israel juga menyusun daftar 12 warga Inggris yang akan dilarang memasuki wilayah Israel.
Baca: Asap Karhutla Kalimantan Tembus Filipina, Pakar Ungkap Peran Angin dan El Nino
Di antara nama yang disebut adalah mantan pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn, anggota parlemen Zarah Sultana serta Diane Abbott.
Rangkaian tindakan tersebut menunjukkan bahwa perselisihan Israel dan Inggris kini tidak hanya menyentuh persoalan perdagangan, tetapi mulai merambah hubungan diplomatik, kerja sama keamanan dan akses masuk bagi pejabat maupun warga negara kedua negara.
Ketegangan ini berpotensi semakin memengaruhi hubungan bilateral Israel-Inggris, terutama ketika tekanan internasional terhadap kebijakan permukiman Israel di Tepi Barat terus meningkat. (SM)
