Pernyataan Jubir Baru Donald Trump soal Toilet China Picu Kontroversi, Ini Duduk Perkaranya
KANALSUMATERA.com - WASHINGTON DC – Juru bicara baru Gedung Putih, Katie Zacharia, menjadi sorotan setelah melontarkan komentar kontroversial mengenai fasilitas toilet di China. Pernyataan tersebut memicu perhatian publik di tengah hubungan diplomatik Amerika Serikat (AS) dan China yang masih menjadi perhatian dunia.
Zacharia, yang baru ditunjuk sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih untuk Presiden AS Donald Trump, menyampaikan komentar itu saat berbincang dengan influencer Amerika Serikat, Jack Posobiec. Wawancara tersebut disiarkan pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat.
Dalam percakapan itu, Zacharia mengingat kembali situasi politik Amerika Serikat pada 2016, ketika muncul anggapan bahwa China akan segera melampaui dominasi AS di panggung global.
Baca: Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, KBRI Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban
"Kami semua diberitahu bahwa Hillary (Clinton) akan menang. Masa keemasan atau masa kejayaan Amerika dianggap telah berakhir. Bahwa China digadang-gadang akan berjaya," kata Zacharia.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya setelah kembali dari China. Pengalaman tersebut menjadi dasar pandangannya terhadap klaim bahwa China akan menjadi kekuatan dominan berikutnya.
Baca: Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mundur Setelah Berbulan-bulan Diguncang Demonstrasi
"Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, 'Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?' Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak," ucapnya.
Komentar tersebut kemudian menjadi perhatian publik. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan langsung dari pemerintah China mengenai pernyataan Zacharia tersebut.
Komentar Muncul di Tengah Hubungan AS-China
Baca: Prabowo Tiba di New Delhi, KTT BRICS Jadi Panggung Strategis Indonesia
Pernyataan Zacharia menjadi sorotan karena muncul ketika Presiden Donald Trump sebelumnya menggambarkan hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping sebagai hubungan yang sangat baik.
Dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington DC pada September 2026, Trump dan Xi membahas sejumlah persoalan strategis, termasuk kecerdasan buatan (AI), perdagangan, serta konflik Iran.
Baca: Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem, Balasan atas Sanksi Permukiman Tepi Barat
Keduanya juga mengonfirmasi rencana untuk kembali bertemu pada tahun yang sama. Karena itu, komentar pejabat Gedung Putih mengenai China turut menarik perhatian dalam konteks hubungan kedua negara.
Katie Zacharia Juga Disorot soal Kualifikasi Hukum
Selain pernyataannya mengenai fasilitas toilet di China, Zacharia turut menghadapi sorotan terkait latar belakang profesionalnya.
Baca: Teluk Persia Memanas, Iran Peringatkan Keras Pergerakan Militer Korea Selatan
Ia pernah menyebut dirinya sebagai pengacara. Namun, ketika ditanya mengenai ujian profesi advokat di Amerika Serikat, ia tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai kelulusannya.
Zacharia diketahui pernah bekerja di sebuah firma hukum di Beijing dan mencantumkan pengalaman sebagai penasihat hukum pada organisasi nirlaba konservatif di California. Ia juga merupakan lulusan Pepperdine University dengan gelar di bidang hukum.
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
Dalam penjelasannya pada Kamis (15/10/2026), Zacharia mengakui pernah mendaftar untuk mengikuti ujian profesi advokat. Namun, rencana tersebut terganggu oleh kepindahannya bersama suami ke China.
Ia juga mengakui tidak kembali mengikuti ujian tersebut setelah pulang ke Amerika Serikat.
Meski demikian, Zacharia bersikeras bahwa dirinya tetap dapat menggunakan sebutan pengacara atau lawyer, dengan alasan memiliki latar belakang pendidikan hukum dan pengalaman di bidang hukum bisnis selama berada di China.
Baca: Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Bandara Miami, Tabrak Kendaraan hingga Terbakar
"Saya sangat berhati-hati dalam menjalankan ini," ujarnya.
Organisasi Etika Politik Desak Penyelidikan
Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran
Kontroversi mengenai kualifikasi hukum Zacharia turut mendapat perhatian Campaign for Accountability, organisasi yang bergerak di bidang pengawasan dan etika politik.
Organisasi tersebut mendesak California Bar Association untuk menyelidiki persoalan yang berkaitan dengan klaim profesi Zacharia.
"Di California, menyebut diri sendiri sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi bukanlah sekadar bualan, itu adalah tindak pidana," tegas Campaign for Accountability.
Baca: JD Vance Tegaskan Konflik AS-Iran Bukan Perang, Negosiasi Masih Buntu
Sorotan terhadap Zacharia pun mencakup dua persoalan berbeda, yakni komentarnya mengenai China dan pertanyaan mengenai kualifikasi profesionalnya.
Perkembangan lebih lanjut mengenai respons pemerintah China maupun hasil desakan penyelidikan terkait latar belakang hukum Zacharia masih menjadi perhatian. (SM)
