KTT BRICS New Delhi Dibayangi Perang, Ketegangan Global Makin Memanas
KANALSUMATERA.com - NEW DELHI – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, tekanan perdagangan, hingga persaingan kekuatan global menjadi isu yang membayangi pertemuan para pemimpin negara anggota BRICS. Sabtu (12/09/2026).
KTT yang berlangsung pada 12-13 September 2026 itu dihadiri sejumlah pemimpin penting, di antaranya Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta tuan rumah Perdana Menteri India Narendra Modi.
India menjadi tuan rumah dalam situasi global yang penuh tekanan. Konflik bersenjata di Timur Tengah berdampak terhadap sektor energi dan jalur pelayaran internasional, sementara perang Rusia-Ukraina terus menimbulkan konsekuensi terhadap perdagangan dan keamanan global.
Baca: Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, KBRI Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban
Kehadiran Iran sebagai anggota BRICS juga membuat isu konflik Timur Tengah menjadi perhatian utama. Di sisi lain, Uni Emirat Arab yang memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat juga berada di dalam blok tersebut. Kondisi ini membuat BRICS menghadapi tantangan untuk menjaga kesatuan sikap di tengah perbedaan kepentingan para anggotanya.
Dalam deklarasi bersama yang disepakati di New Delhi, negara-negara BRICS menyatakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Mereka menyerukan semua pihak menahan diri dan menghindari langkah yang dapat memperburuk situasi.
Baca: Kopilot Flydubai Serang Pilot Pakai Kapak, Identitas dan Dugaan Motif Terungkap
BRICS juga menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog, konsultasi, dan diplomasi. Para pemimpin negara anggota turut menekankan perlindungan terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil dalam situasi perang.
Presiden China Xi Jinping bahkan mendorong BRICS mengambil peran lebih besar sebagai kekuatan yang membantu menciptakan perdamaian di Timur Tengah.
Menurut Xi, perang yang berlangsung saat ini tidak memberikan manfaat bagi kepentingan masyarakat internasional. China menyatakan siap bekerja sama dengan negara-negara BRICS lainnya untuk mendorong upaya perdamaian.
Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama
Selain konflik geopolitik, KTT BRICS juga membahas persoalan ekonomi global. Para pemimpin negara anggota menyoroti penerapan tarif dan hambatan perdagangan sepihak yang dinilai dapat mengganggu arus perdagangan internasional.
Penguatan sistem pembayaran lintas batas di luar dominasi sistem keuangan Barat juga menjadi salah satu agenda penting. Selain itu, kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI), teknologi, serta penguatan ekonomi negara-negara berkembang turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.
Baca: Inggris Mulai Jaga Jarak dengan Israel, Dukungan ke Palestina Makin Tegas
KTT BRICS kali ini juga menjadi momentum penting bagi hubungan China dan India. Xi Jinping tiba di New Delhi untuk menghadiri pertemuan tersebut, sekaligus melakukan pembicaraan dengan Modi.
Kunjungan Xi merupakan yang pertama ke India dalam tujuh tahun dan dinilai menjadi sinyal membaiknya hubungan kedua negara setelah ketegangan akibat konflik perbatasan pada 2020.
Di tengah berbagai konflik dan perbedaan kepentingan tersebut, BRICS berupaya menunjukkan bahwa blok negara-negara berkembang itu dapat memainkan peran lebih besar dalam menentukan arah tata kelola global.
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
KTT New Delhi akhirnya tidak hanya menjadi forum ekonomi, tetapi juga panggung diplomasi untuk merespons perang, ketegangan geopolitik, perdagangan global, dan perubahan keseimbangan kekuatan dunia. (SM)
