Trump Kaitkan Demo Pelajar Prancis dengan Migrasi dan Islam
KANALSUMATERA.com - Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyoroti gelombang demonstrasi pelajar yang melanda Prancis dan diwarnai kericuhan. Trump mengaitkan aksi tersebut dengan persoalan migrasi serta Islam, meski tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaimnya. Kamis (08/10/2026).
Pernyataan Trump disampaikan melalui platform Truth Social ketika aksi protes pelajar di berbagai wilayah Prancis semakin meluas. Demonstrasi yang awalnya berfokus pada persoalan pendidikan itu kemudian diwarnai bentrokan antara sebagian demonstran dan aparat keamanan.
"Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali," sebut Presiden AS itu dalam postingan media sosial Truth Social, Rabu (07/10/2026).
Baca: Arab Saudi Kerahkan 100 Jet Tempur, Ratusan Target Houthi Jadi Sasaran di Yaman
Trump kemudian kembali mengaitkan aksi tersebut dengan persoalan agama.
"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih sebuah negara yang dulunya hebat!" klaim Trump, tanpa memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya itu.
Baca: Pilot Flydubai Smit Machchhar Ungkap Perjuangan Melawan Kopilot di Udara
Pernyataan tersebut muncul saat demonstrasi pelajar Prancis telah berlangsung sejak akhir September. Para pelajar memblokir akses masuk ke sejumlah sekolah menengah sebagai bentuk protes terhadap kondisi pendidikan yang dinilai membutuhkan perbaikan.
Tuntutan utama demonstran berkaitan dengan fasilitas sekolah yang rusak, keterbatasan tenaga pengajar, kondisi ruang belajar, serta berbagai persoalan lain dalam sistem pendidikan.
Dalam aksi pada Selasa (06/10/2026) waktu setempat, sekitar 250.000 orang dilaporkan turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis. Kementerian Dalam Negeri Prancis kemudian mencatat sedikitnya 488 orang ditangkap dan 43 personel keamanan mengalami luka dalam aksi yang diwarnai kericuhan tersebut.
Baca: Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mundur Setelah Berbulan-bulan Diguncang Demonstrasi
Meski Trump menghubungkan demonstrasi dengan migrasi dan Islam, laporan mengenai aksi tersebut menunjukkan tuntutan pelajar berpusat pada persoalan pendidikan. Tidak ditemukan kaitan antara gerakan pelajar tersebut dengan tuntutan berbasis agama atau identitas.
Demo Pelajar Prancis Meluas
Baca: Sidang Umum PBB ke-81, Menlu Sugiono Pimpin Delegasi Indonesia
Gelombang protes tidak hanya melibatkan pelajar. Orang tua murid, guru dan sejumlah anggota serikat pekerja juga ikut bergabung dalam aksi di Paris serta sejumlah kota lainnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk segera merespons tuntutan para demonstran. Presiden Emmanuel Macron bahkan menggelar rapat darurat guna membahas perkembangan situasi.
Di Paris, aksi pada awalnya berlangsung relatif damai. Namun, ketegangan meningkat ketika sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi antihuru-hara. Aparat menggunakan gas air mata, sementara sejumlah demonstran dilaporkan melemparkan batu.
Baca: Prabowo Tiba di New Delhi, KTT BRICS Jadi Panggung Strategis Indonesia
Kelompok hak asasi manusia, serikat pekerja dan pelajar kemudian mempertanyakan penggunaan kekuatan aparat dalam menghadapi demonstrasi tersebut.
Salah seorang pelajar yang mengikuti aksi, Yanis (16), mengatakan para siswa merasa tidak mendapatkan perhatian hingga demonstrasi berkembang menjadi kekerasan.
Baca: Indonesia dan 7 Negara Arab-Muslim Dukung Langkah Inggris Tekan Israel
"Hal itu membuat kami merasa seolah-olah segalanya diselesaikan melalui kekerasan," ujarnya.
Demonstran pelajar lainnya, Lilia (19), juga menyampaikan pesan mengenai posisi generasi muda dalam aksi tersebut.
"Generasi Z telah bangkit dan ingin didengar," ucapnya.
Baca: Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem, Balasan atas Sanksi Permukiman Tepi Barat
Pernyataan Trump Picu Sorotan
Pernyataan Trump mengenai demonstrasi Prancis menjadi bagian dari kritiknya terhadap kebijakan migrasi di Eropa. Sejumlah tokoh pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) juga ikut mengangkat aksi tersebut dalam perdebatan politik mengenai migrasi.
Baca: Teluk Persia Memanas, Iran Peringatkan Keras Pergerakan Militer Korea Selatan
Sekutu Trump, Glenn Beck, turut memberikan komentar mengenai situasi di Prancis.
"Kerusuhan di Prancis merupakan peringatan nyata bagi dunia Barat lainnya."
Sementara itu, komentator sayap kanan Dave Rubin juga mengaitkan situasi tersebut dengan politik Amerika Serikat.
Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran
"Hal ini akan terjadi di Amerika jika Partai Demokrat kembali berkuasa," klaim komentator sayap kanan, Dave Robin.
Di sisi lain, pemerintah Prancis tetap menghadapi persoalan utama berupa tuntutan perbaikan sistem pendidikan dan penanganan kericuhan yang terjadi dalam sejumlah aksi.
Baca: IRGC Klaim Gempur Markas Komandan AS di Kuwait, Hanggar Drone Terbakar
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot sebelumnya juga merespons narasi dari luar negeri terkait demonstrasi tersebut dan menegaskan pentingnya Prancis menyampaikan perspektifnya sendiri mengenai situasi yang berkembang.
Dengan demonstrasi yang terus menjadi perhatian publik, pemerintah Prancis kini menghadapi tantangan ganda: merespons tuntutan pendidikan para pelajar sekaligus menjaga keamanan di tengah aksi yang mulai diwarnai kekerasan. (SM)
