JD Vance Soroti Rekam Jejak Perang AS: Hampir Tak Pernah Menang Selama 42 Tahun
KANALSUMATERA.com - WASHINGTON – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance melontarkan kritik tajam terhadap rekam jejak militer negaranya selama beberapa dekade terakhir. Ia menilai Amerika Serikat terlalu sering terlibat dalam konflik, tetapi tidak banyak yang berakhir dengan kemenangan. Jumat (04/09/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Vance ketika membahas perlunya perubahan dalam budaya kepemimpinan dan perencanaan militer AS. Sorotan itu muncul di tengah konflik yang masih berlangsung antara Washington dan Iran.
"Amerika telah terlibat dalam banyak perang selama saya hidup — 42 tahun. Dan kita hampir tidak pernah memenangkannya satu pun," ungkap JD Vance.
Baca: Pernyataan Jubir Baru Donald Trump soal Toilet China Picu Kontroversi, Ini Duduk Perkaranya
Vance juga menyinggung perjalanan kebijakan militer Amerika Serikat selama sekitar empat dekade. Menurut dia, berbagai konflik yang diikuti Washington menunjukkan adanya persoalan dalam proses perencanaan militer maupun kepemimpinan politik.
Wakil Presiden AS tersebut kemudian menggambarkan empat dekade terakhir sebagai "40 tahun yang, terus terang, merupakan petualangan militer yang keliru," seraya mempertanyakan perencanaan militer maupun kepemimpinan politik di baliknya.
Baca: Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, KBRI Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban
Vance Soroti Budaya Militer AS
Komentar Vance tidak hanya berkaitan dengan hasil sejumlah peperangan yang pernah diikuti AS. Ia juga mengarah pada budaya dan pola pengambilan keputusan di lingkungan pertahanan Amerika.
Dalam pernyataannya, Vance menyatakan perlunya perubahan budaya di Pentagon. Ia menilai evaluasi terhadap pengalaman militer masa lalu penting dilakukan agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi.
Baca: Demo Pelajar di Prancis Makin Memanas, 488 Orang Ditangkap dan 43 Aparat Terluka
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena disampaikan ketika AS masih menghadapi konflik dengan Iran. Vance pun mengaitkan kondisi tersebut dengan risiko munculnya kembali pola intervensi militer yang menurutnya bermasalah.
Dan kini, AS menghadapi potensi "petualangan keliru" lainnya di Iran.
Baca: Kopilot Flydubai Serang Pilot Pakai Kapak, Identitas dan Dugaan Motif Terungkap
Konflik Iran Jadi Sorotan
Perang AS-Iran juga menjadi bagian penting dari konteks pernyataan Vance. Konflik tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan dan menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam perkembangan lain, sebuah rudal yang menghantam acara pernikahan di Iran dilaporkan menewaskan empat orang, termasuk dua anak-anak. Analisis Reuters menyebut rudal tersebut kemungkinan besar ditembakkan oleh AS.
Baca: Profesor Biao Xiang Jadi Idola Gen Z China, Bahas Kecemasan Anak Muda
Insiden tersebut menambah sorotan terhadap operasi militer Washington di Iran, terutama mengenai dampak serangan terhadap masyarakat sipil.
Vance sebelumnya dikenal mengambil sikap skeptis terhadap keterlibatan militer AS dalam konflik luar negeri. Dalam konteks konflik Iran, ia juga pernah menekankan pentingnya solusi diplomatik dan menghindari perang berkepanjangan.
Baca: Prabowo Tiba di New Delhi, KTT BRICS Jadi Panggung Strategis Indonesia
Kini, pernyataannya mengenai minimnya kemenangan AS dalam empat dekade terakhir kembali memicu perhatian terhadap efektivitas kebijakan perang Washington dan arah strategi militer Amerika di masa mendatang. (SM)
