Netanyahu Tegaskan Pasukan Israel Tak Mundur dari Gaza, Klaim Kuasai 60 Persen Wilayah
KANALSUMATERA.com - GAZA CITY – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan sikap keras pemerintahannya terkait operasi militer di Jalur Gaza. Saat mengunjungi pasukan Israel di wilayah tersebut, Netanyahu menyatakan militernya tidak akan meninggalkan posisi yang telah dikuasai. Kamis (03/09/2026).
Netanyahu melakukan kunjungan ke pasukan Israel di Jalur Gaza pada Rabu (02/09/2026) waktu setempat. Kunjungan itu menjadi yang pertama bagi Netanyahu ke Gaza sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan pada Oktober 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu mendatangi area yang dikenal sebagai Yellow Line. Garis tersebut menjadi pembatas antara wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Hamas dan kawasan yang dikuasai militer Israel.
Baca: Kabut Asap Karhutla Indonesia Memburuk, Sekolah di Johor Malaysia Ditutup Lima Hari
Di hadapan para tentaranya, Netanyahu menegaskan Israel akan mempertahankan posisi tersebut.
"Kita menguasai area ini. Kita tidak akan mundur. Kita tetap bertahap di garis ini," tegas Netanyahu dalam pernyataannya.
Baca: Serangan Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, KBRI Pastikan Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban
Ia juga mengklaim pasukan Israel kini menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza. Netanyahu mengatakan operasi militer akan terus dilanjutkan dengan alasan untuk menghilangkan ancaman terhadap Israel.
"Kita menguasai 60 persen wilayah Jalur Gaza, dan kita tidak akan berhenti, karena kita terus melenyapkan para teroris yang mengancam kita, hari demi hari," ucap PM Israel tersebut.
Netanyahu Tolak Penarikan Pasukan
Baca: Arab Saudi Kerahkan 100 Jet Tempur, Ratusan Target Houthi Jadi Sasaran di Yaman
Pernyataan Netanyahu disampaikan ketika tekanan internasional terus mengemuka agar proses perdamaian Gaza memasuki tahap berikutnya. Rencana perdamaian tersebut didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sebelumnya telah menjadi bagian dari upaya mediasi terkait konflik Israel-Hamas.
Namun, Netanyahu tetap mensyaratkan Hamas harus dilucuti sebelum Israel menarik pasukannya dari Gaza. Sikap tersebut membuat prospek penerapan tahap lanjutan rencana perdamaian masih menghadapi tantangan.
Baca: Pilot Flydubai Smit Machchhar Ungkap Perjuangan Melawan Kopilot di Udara
Netanyahu juga mengatakan pemerintahannya berupaya mencapai dua sasaran utama, yakni pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza.
"Kita melakukan segala upaya untuk mencapai tujuan kita -- melucuti senjata Hamas dan melakukan demiliterisasi Gaza. Gaza tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Israel," ujar Netanyahu.
Ia kemudian menegaskan bahwa Israel masih memiliki pekerjaan yang harus dituntaskan di Gaza.
Baca: Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mundur Setelah Berbulan-bulan Diguncang Demonstrasi
"Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan -- dan kita akan menyelesaikannya," tandasnya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan penarikan pasukan secara penuh. Netanyahu justru menegaskan keberadaan militer Israel di wilayah yang mereka kuasai akan dipertahankan hingga tuntutan terhadap Hamas terpenuhi.
Baca: KTT BRICS New Delhi Dibayangi Perang, Ketegangan Global Makin Memanas
Di tengah situasi tersebut, seruan untuk melanjutkan proses perdamaian Gaza masih terus berlangsung. Perkembangan sikap Israel dan Hamas menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah konflik serta masa depan gencatan senjata di wilayah tersebut. (SM)
