Taliban Rayu AS Investasi Mineral Afghanistan Senilai Rp17.732 Triliun
KANALSUMATERA.com - KABUL – Pemerintahan Taliban di Afghanistan mulai membuka pendekatan ekonomi kepada Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan peluang investasi di sektor pertambangan, infrastruktur, pertanian, hingga perdagangan. Selasa (01/09/2026).
Langkah tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi di tengah upaya Kabul mengurangi keterisolasian ekonomi dan menarik lebih banyak investasi asing.
Salah satu peluang terbesar yang ditawarkan adalah sektor pertambangan. Afghanistan diperkirakan menyimpan sumber daya mineral yang belum tergarap dengan nilai sedikitnya US$1 triliun atau sekitar Rp17.732 triliun.
Baca: Intelijen Ukraina Ungkap 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia
Menurut laporan Financial Times yang dikutip Al Arabiya, Muttaqi menyatakan Afghanistan terbuka terhadap investasi dari perusahaan-perusahaan AS. Ia juga mendorong agar hubungan kedua negara tidak terus dibayangi sejarah konflik selama dua dekade.
Dalam wawancara tersebut, Muttaqi mengusulkan agar hubungan Afghanistan dan AS "tidak dinilai berdasarkan perspektif perang selama 20 tahun terakhir".
Baca: Dan Driscoll Mundur dari Sekretaris Angkatan Darat AS di Tengah Konflik dengan Hegseth
"Melainkan atas dasar kerja sama di masa depan," cetus Menlu Taliban tersebut.
Muttaqi menambahkan bahwa Afghanistan "tentu saja" akan menyambut baik investasi AS.
Kekayaan Mineral Afghanistan Jadi Daya Tarik
Baca: Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
Potensi ekonomi Afghanistan menjadi salah satu alasan Taliban berupaya mendekati Washington. Penilaian terhadap data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pada 2009 memperkirakan Afghanistan memiliki sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan dengan nilai sedikitnya US$1 triliun.
Cadangan tersebut mencakup tembaga, bijih besi, litium, logam tanah jarang, kobalt, kromit, emas, niobium hingga berbagai jenis batu permata.
Baca: Trump Klaim Kendali Minyak Venezuela, Rodriguez Tegaskan Sumber Daya Tetap Berdaulat
Sejumlah mineral yang dimiliki Afghanistan juga masuk dalam daftar mineral kritis AS pada 2025. Litium, tembaga, kobalt, dan logam tanah jarang memiliki peran penting dalam industri baterai kendaraan listrik, teknologi pertahanan, serta berbagai teknologi strategis.
Potensi tersebut membuat Afghanistan memiliki posisi penting dalam persaingan mendapatkan pasokan mineral strategis global.
Taliban Sudah Gandeng Investor Asing
Baca: AS Pertimbangkan Ubah Sikap soal Falkland, Inggris Jadi Sorotan Trump
Sejak kembali menguasai Afghanistan pada 2021 setelah penarikan pasukan AS dan NATO, Taliban telah mengumumkan kontrak dan investasi pertambangan dengan nilai lebih dari US$7 miliar.
Sebagian besar investasi tersebut melibatkan perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan China, Iran, dan sejumlah negara lain yang telah membuka hubungan dengan pemerintahan Taliban.
Baca: Kim Jong Un Rombak Militer Korut, Kim Song-gi Jadi Menteri Pertahanan Baru
Namun, kekayaan alam tersebut belum mampu mengubah kondisi ekonomi Afghanistan secara signifikan.
Negara itu masih menghadapi persoalan kemiskinan dan ketahanan pangan. Sekitar sepertiga penduduk Afghanistan dilaporkan menghadapi kelaparan akut.
Di sisi lain, pemerintahan Taliban juga menghadapi sorotan internasional terkait pembatasan terhadap hak-hak perempuan dan anak perempuan.
Baca: Mojtaba Khamenei Perintahkan Iran Kurangi Ketergantungan Dolar di Tengah Sanksi AS
Karena itu, tawaran investasi kepada AS bukan hanya berkaitan dengan eksploitasi sumber daya mineral, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Taliban membangun hubungan ekonomi dan diplomatik yang lebih luas.
Meski demikian, belum ada kesepakatan final senilai US$1 triliun antara Taliban dan AS. Nilai tersebut merupakan estimasi potensi sumber daya mineral Afghanistan yang dapat menjadi dasar peluang investasi, bukan nilai kontrak yang telah disepakati kedua pihak. (SM)
