Profesor Biao Xiang Jadi Idola Gen Z China, Bahas Kecemasan Anak Muda
KANALSUMATERA.com - BEIJING – Sosok Profesor Biao Xiang menjadi perhatian generasi muda di China. Bukan karena tampil sebagai aktor drama China atau selebritas media sosial, melainkan karena keberaniannya membicarakan kecemasan dan tekanan yang dihadapi anak muda. Minggu (27/09/2026),
Profesor antropologi berusia 54 tahun itu kini dikenal luas di kalangan Gen Z China. Pemikirannya dianggap relevan dengan kondisi generasi muda yang menghadapi ketidakpastian pekerjaan, hubungan asmara hingga tuntutan untuk terus bersaing.
Xiang menjadi sosok yang tidak biasa di tengah perubahan sosial dan ekonomi China yang berlangsung cepat.
Baca: Sidang Umum PBB ke-81, Menlu Sugiono Pimpin Delegasi Indonesia
Ia kerap diundang ke berbagai media dan kampus untuk membicarakan persoalan sosial. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian berlangsung di Universitas Peking. Antusiasme peserta begitu tinggi hingga sebuah sesi ceramah harus disiarkan secara langsung karena kapasitas auditorium tidak mencukupi.
Popularitas Xiang juga terlihat ketika ia memberikan ceramah di Singapura. Sekitar 500 orang, yang sebagian besar merupakan diaspora China, menghadiri acara tersebut.
Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama
Dalam forum itu, Xiang membahas kebutuhan anak muda terhadap pengakuan atau validasi. Menurutnya, sebagian anak muda menjadikan keberhasilan dalam ujian, pekerjaan yang dianggap aman, hingga pencapaian materi sebagai ukuran nilai diri.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menggantungkan harga diri pada pengakuan dari sistem tersebut. Menurut Xiang, seseorang perlu mencari makna dan pemahaman dari orang lain untuk kemudian lebih memahami dirinya sendiri.
Xiang juga menyebut persoalan kecemasan sebagai bagian dari "titik nyeri zaman ini".
Baca: KTT BRICS New Delhi Dibayangi Perang, Ketegangan Global Makin Memanas
"Semua orang tahu di mana letak masalahnya, tetapi mereka enggan melihatnya. Terkadang kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk dihadapi, atau mereka tidak tahu caranya," ujarnya di Singapura.
"Namun, bagi seorang akademisi, hal itu tidak menakutkan jika kita bisa mendeskripsikannya-karena dengan begitu kita bisa menganalisis dan menanganinya," sambungnya.
Baca: Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem, Balasan atas Sanksi Permukiman Tepi Barat
Tekanan Ekonomi dan Persaingan Anak Muda China
Menurut Xiang, perubahan ekonomi China turut memengaruhi cara generasi muda melihat masa depan. Perlambatan ekonomi setelah periode pertumbuhan pesat membuat pola lama berupa kerja keras untuk memperoleh pekerjaan yang aman semakin dipertanyakan.
Tekanan tersebut juga terlihat dalam persoalan pekerjaan. Anak muda menghadapi persaingan ketat untuk memperoleh pekerjaan yang dianggap stabil, sementara pekerja yang sudah memiliki pekerjaan juga menghadapi kekhawatiran terhadap keamanan karier.
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
Di ruang digital, keluhan mengenai jam kerja panjang, budaya kantor dan sulitnya memperoleh pekerjaan setelah usia tertentu turut menjadi bagian dari diskusi publik.
Fenomena seperti lying flat atau memilih keluar dari persaingan hidup yang sangat kompetitif serta istilah involution yang menggambarkan persaingan sengit dengan hasil terbatas juga berkembang di kalangan masyarakat China.
Baca: Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Bandara Miami, Tabrak Kendaraan hingga Terbakar
Xiang melihat pasar properti dan sistem pendidikan tinggi sebagai dua faktor yang ikut memperkuat tekanan tersebut.
Kenaikan standar pendidikan membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Pada saat yang sama, kepemilikan rumah juga berkaitan erat dengan persepsi mengenai keamanan dan keberhasilan keluarga.
Akibatnya, muncul pola kehidupan yang dianggap ideal oleh banyak orang, mulai dari memperoleh gelar pendidikan, mendapatkan pekerjaan stabil, menikah hingga membeli rumah.
Baca: Malaysia Tetapkan Darurat Asap, Kemlu RI Tegaskan Penanganan Karhutla Terus Dikebut
"Ketika 1,4 miliar orang berlomba dalam ajang yang sama, itulah yang disebut involusi," ujarnya.
Biao Xiang dan Popularitas di Kalangan Anak Muda
Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran
Xiang lahir pada 1972 dan tumbuh di Wenzhou ketika China mulai mengalami perubahan besar setelah era Mao Zedong. Ia menyaksikan perkembangan kota tersebut dari lingkungan yang didominasi usaha kecil hingga menjadi kawasan industri dan pelabuhan.
Kini Xiang tinggal di Jerman dan menjabat sebagai direktur Max Planck Institute for Social Anthropology. Penelitiannya berfokus pada perubahan sosial di China dan berbagai wilayah Asia.
Popularitasnya di kalangan anak muda membuat Xiang tidak lagi hanya dikenal di lingkungan akademik.
Baca: Prabowo di Depan Putin Tegaskan Indonesia Tetap Non-Blok dan Hormati Semua Kekuatan
Ia bahkan menganggap penyebutan dirinya sebagai influencer sebagai sesuatu yang positif selama pengaruh tersebut mendorong orang untuk berpikir secara mandiri.
"Jika ada yang menyebut saya 'influencer', saya akan menganggapnya sebagai pujian. Sebab, pengaruh nyata yang bisa saya berikan adalah membuat orang berpikir secara mandiri," ujarnya.
Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142
Fenomena Biao Xiang menunjukkan bagaimana figur akademisi dapat memperoleh perhatian luas ketika gagasan yang disampaikan menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari, khususnya keresahan generasi muda menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. (SM)
