Profesor Biao Xiang Jadi Idola Gen Z China, Bahas Kecemasan Anak Muda

Kanama
Minggu, 27 September 2026 11:30:38

KANALSUMATERA.com - BEIJING – Sosok Profesor Biao Xiang menjadi perhatian generasi muda di China. Bukan karena tampil sebagai aktor drama China atau selebritas media sosial, melainkan karena keberaniannya membicarakan kecemasan dan tekanan yang dihadapi anak muda. Minggu (27/09/2026),

Profesor antropologi berusia 54 tahun itu kini dikenal luas di kalangan Gen Z China. Pemikirannya dianggap relevan dengan kondisi generasi muda yang menghadapi ketidakpastian pekerjaan, hubungan asmara hingga tuntutan untuk terus bersaing.

Xiang menjadi sosok yang tidak biasa di tengah perubahan sosial dan ekonomi China yang berlangsung cepat.

Baca: Sidang Umum PBB ke-81, Menlu Sugiono Pimpin Delegasi Indonesia

Ia kerap diundang ke berbagai media dan kampus untuk membicarakan persoalan sosial. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian berlangsung di Universitas Peking. Antusiasme peserta begitu tinggi hingga sebuah sesi ceramah harus disiarkan secara langsung karena kapasitas auditorium tidak mencukupi.

Popularitas Xiang juga terlihat ketika ia memberikan ceramah di Singapura. Sekitar 500 orang, yang sebagian besar merupakan diaspora China, menghadiri acara tersebut.

Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama

Dalam forum itu, Xiang membahas kebutuhan anak muda terhadap pengakuan atau validasi. Menurutnya, sebagian anak muda menjadikan keberhasilan dalam ujian, pekerjaan yang dianggap aman, hingga pencapaian materi sebagai ukuran nilai diri.

Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menggantungkan harga diri pada pengakuan dari sistem tersebut. Menurut Xiang, seseorang perlu mencari makna dan pemahaman dari orang lain untuk kemudian lebih memahami dirinya sendiri.

Xiang juga menyebut persoalan kecemasan sebagai bagian dari "titik nyeri zaman ini".

Baca: KTT BRICS New Delhi Dibayangi Perang, Ketegangan Global Makin Memanas

"Semua orang tahu di mana letak masalahnya, tetapi mereka enggan melihatnya. Terkadang kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk dihadapi, atau mereka tidak tahu caranya," ujarnya di Singapura.

"Namun, bagi seorang akademisi, hal itu tidak menakutkan jika kita bisa mendeskripsikannya-karena dengan begitu kita bisa menganalisis dan menanganinya," sambungnya.

Baca: Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem, Balasan atas Sanksi Permukiman Tepi Barat

Tekanan Ekonomi dan Persaingan Anak Muda China

Menurut Xiang, perubahan ekonomi China turut memengaruhi cara generasi muda melihat masa depan. Perlambatan ekonomi setelah periode pertumbuhan pesat membuat pola lama berupa kerja keras untuk memperoleh pekerjaan yang aman semakin dipertanyakan.

Tekanan tersebut juga terlihat dalam persoalan pekerjaan. Anak muda menghadapi persaingan ketat untuk memperoleh pekerjaan yang dianggap stabil, sementara pekerja yang sudah memiliki pekerjaan juga menghadapi kekhawatiran terhadap keamanan karier.

Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas

Di ruang digital, keluhan mengenai jam kerja panjang, budaya kantor dan sulitnya memperoleh pekerjaan setelah usia tertentu turut menjadi bagian dari diskusi publik.

Fenomena seperti lying flat atau memilih keluar dari persaingan hidup yang sangat kompetitif serta istilah involution yang menggambarkan persaingan sengit dengan hasil terbatas juga berkembang di kalangan masyarakat China.

Baca: Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Bandara Miami, Tabrak Kendaraan hingga Terbakar

Xiang melihat pasar properti dan sistem pendidikan tinggi sebagai dua faktor yang ikut memperkuat tekanan tersebut.

Kenaikan standar pendidikan membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Pada saat yang sama, kepemilikan rumah juga berkaitan erat dengan persepsi mengenai keamanan dan keberhasilan keluarga.

Akibatnya, muncul pola kehidupan yang dianggap ideal oleh banyak orang, mulai dari memperoleh gelar pendidikan, mendapatkan pekerjaan stabil, menikah hingga membeli rumah.

Baca: Malaysia Tetapkan Darurat Asap, Kemlu RI Tegaskan Penanganan Karhutla Terus Dikebut

"Ketika 1,4 miliar orang berlomba dalam ajang yang sama, itulah yang disebut involusi," ujarnya.

Biao Xiang dan Popularitas di Kalangan Anak Muda

Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran

Xiang lahir pada 1972 dan tumbuh di Wenzhou ketika China mulai mengalami perubahan besar setelah era Mao Zedong. Ia menyaksikan perkembangan kota tersebut dari lingkungan yang didominasi usaha kecil hingga menjadi kawasan industri dan pelabuhan.

Kini Xiang tinggal di Jerman dan menjabat sebagai direktur Max Planck Institute for Social Anthropology. Penelitiannya berfokus pada perubahan sosial di China dan berbagai wilayah Asia.

Popularitasnya di kalangan anak muda membuat Xiang tidak lagi hanya dikenal di lingkungan akademik.

Baca: Prabowo di Depan Putin Tegaskan Indonesia Tetap Non-Blok dan Hormati Semua Kekuatan

Ia bahkan menganggap penyebutan dirinya sebagai influencer sebagai sesuatu yang positif selama pengaruh tersebut mendorong orang untuk berpikir secara mandiri.

"Jika ada yang menyebut saya 'influencer', saya akan menganggapnya sebagai pujian. Sebab, pengaruh nyata yang bisa saya berikan adalah membuat orang berpikir secara mandiri," ujarnya.

Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142

Fenomena Biao Xiang menunjukkan bagaimana figur akademisi dapat memperoleh perhatian luas ketika gagasan yang disampaikan menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari, khususnya keresahan generasi muda menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. (SM)



Terkait
Taliban Rayu AS Investasi Mineral Afghanistan Senilai Rp17.732 Triliun
Taliban Rayu AS Investasi Mineral Afghanistan Senilai Rp17.732 Triliun
Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Targe
Kim Jong Un Rombak Militer Korut, Kim Song-gi Jadi Ment
Wapres Tanzania Mundur Usai Bersitegang dengan Presiden
Lainnya
Lima Tahun Hilangnya Pesawat MH370, Keluarga Masih Menanti Jawaban
Lima Tahun Hilangnya Pesawat MH370, Keluarga Masih Menanti Jawaban
Penemu Kalkulator Meninggal Dunia
Dua Jenazah WNI Korban Mutilasi di Malaysia Dipulangkan
Protes Pemecatan 25 Imam Masjid di Perlis Malaysia
Politik
Hakim MK Soroti Perbedaan Verifikasi Ijazah KPU di Pilkada dan Pilpres
Hakim MK Soroti Perbedaan Verifikasi Ijazah KPU di Pilkada dan Pilpres
PKS Tanggapi Elektabilitas 3,3 Persen, Sebut Hasil Surv
Poltracking Rilis Survei Terbaru, Gerindra Unggul Jauh
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Pendidikan
UPT SDN 012 Rantau Kasih Direvitalisasi, Siswa Tak Lagi Tempuh 30 Km
UPT SDN 012 Rantau Kasih Direvitalisasi, Siswa Tak Lagi Tempuh 30 Km
Nyata dan Berdampak! Workshop Nasional Gerakan Pramuka
Witama School Ikut Semarakkan Panggung Amal untuk 10 Pa
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Kriminal
Polri Selidiki Pengusaha RI, 34 Lembar Uang Palsu Dolar Singapura Disorot
Polri Selidiki Pengusaha RI, 34 Lembar Uang Palsu Dolar Singapura Disorot
Aisar Khaled Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Dugaan Pen
Polda Riau Tetapkan 55 Tersangka Karhutla, Luas Lahan T
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung