Partai Ben Gvir Jeblok di Pemilu Israel, Kini Desak Pemimpin Partai Arab Ditangkap
KANALSUMATERA.com - YERUSALEM – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mendesak badan intelijen dalam negeri Shin Bet menangkap para pemimpin partai Arab di Israel.
Desakan itu muncul di tengah hasil pemilu parlemen yang menunjukkan peningkatan signifikan perolehan kursi partai-partai Arab, sementara partai yang dipimpin Ben Gvir menghadapi hasil di bawah target.
Ben Gvir, politikus sayap kanan Israel, menuding sejumlah pemimpin partai Arab memiliki keterkaitan dengan dugaan pendanaan dari Qatar. Namun, tuduhan tersebut belum disertai bukti yang dipaparkan secara terbuka dalam laporan yang tersedia.
Baca: Lula da Silva Menang Pilpres Brasil 2026, Amankan Masa Jabatan Keempat
Seruan penangkapan itu disampaikan pada Kamis (29/10/2026), ketika penghitungan suara pemilu parlemen Israel yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) masih menjadi perhatian politik nasional.
Situasi tersebut semakin memperuncing persaingan antarkelompok politik di Israel, terutama karena partai-partai Arab berpotensi memegang peranan penting dalam menentukan pembentukan pemerintahan berikutnya.
Baca: Raja Yordania Ancam Hukuman Keras Pelaku Penembakan Gereja yang Tewaskan 7 Orang
Partai Ben Gvir Gagal Mencapai Target Kursi
Hasil pemilu juga menjadi tantangan bagi Ben Gvir. Partainya, Otzma Yehudit, diproyeksikan meraih sekitar enam kursi berdasarkan hasil jajak pendapat cepat atau exit poll yang dilaporkan media Israel.
Perolehan tersebut jauh dari target 14 kursi yang sebelumnya diharapkan Ben Gvir. Dalam pemilu kali ini, Otzma Yehudit maju sendiri tanpa bergabung dengan Partai Religious Zionism seperti pada pemilu sebelumnya.
Baca: Parlemen Malaysia Sindir Indonesia soal Asap dengan Bahasa Jawa: Pak Prabowo, Pripun Kabare?
Hasil tersebut menjadi pukulan bagi ambisi politik Ben Gvir untuk memperkuat pengaruh kelompok sayap kanan dalam parlemen Israel.
Di sisi lain, peningkatan dukungan terhadap partai-partai Arab membuat posisi politik kelompok tersebut semakin diperhitungkan dalam proses pembentukan pemerintahan.
Baca: Dana Pendidikan Prancis Melimpah, Kekurangan Guru Picu Gelombang Protes
Partai Arab Berpotensi Memegang Peran Penting
Penghitungan suara sementara menunjukkan blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memperoleh mayoritas mutlak di parlemen Israel atau Knesset.
Dengan jumlah 120 kursi, sebuah pemerintahan membutuhkan dukungan sedikitnya 61 anggota parlemen untuk mengamankan mayoritas.
Baca: Selain Palestina, Kondisi Minoritas Muslim India Jadi Sorotan BKSAP DPR RI di Sidang IPU Tanzania
Hasil sementara yang dilaporkan Reuters menunjukkan blok Netanyahu memperoleh sekitar 53 kursi, sedangkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih sekitar 48 kursi. Sementara itu, partai-partai Arab diproyeksikan memperoleh total 19 kursi.
Angka tersebut membuat dukungan politik dari partai-partai Arab berpotensi menentukan arah negosiasi pembentukan pemerintahan baru.
Baca: Profesor Biao Xiang Jadi Idola Gen Z China, Bahas Kecemasan Anak Muda
Meski demikian, perolehan kursi tersebut belum otomatis menjamin terbentuknya koalisi. Proses politik masih bergantung pada hasil akhir penghitungan suara dan kesepakatan antarpartai.
Tuduhan Pendanaan Qatar Masih Diselidiki
Tuduhan mengenai dugaan keterlibatan dana asing dalam pemilu Israel turut memperkeruh situasi. Pihak Partai Likud yang dipimpin Netanyahu sebelumnya juga menuding adanya dugaan pelanggaran dalam proses pemungutan suara di sejumlah wilayah Arab.
Baca: Trump Kembali Berulah, Nama New Mexico Diusulkan Jadi New America
Otoritas pemilu Israel telah meminta penyelidikan terhadap dugaan campur tangan pihak asing. Kepolisian juga dilaporkan menangani sejumlah dugaan pelanggaran pemilu, termasuk dugaan upaya memengaruhi pemilih.
Namun, penyelidikan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh tuduhan terhadap partai-partai Arab benar. Qatar juga membantah tuduhan keterlibatan dalam dugaan campur tangan pemilu.
Baca: Inggris Murka, Anak Netanyahu Ikut Campur Sengketa Falkland dengan Argentina
Para pemimpin partai Arab menolak tuduhan yang diarahkan kepada mereka dan menilai pernyataan sejumlah politikus Israel berpotensi memicu permusuhan terhadap warga Arab.
Presiden Israel Isaac Herzog turut mengingatkan agar dugaan pelanggaran diselidiki tanpa menggeneralisasi seluruh komunitas Arab yang menggunakan hak pilihnya.
Sementara itu, pemimpin oposisi Gadi Eisenkot mendukung penyelidikan yang kredibel untuk menjaga integritas pemilu, tetapi juga mengkritik penggunaan tuduhan tersebut dalam persaingan politik.
Baca: JD Vance Soroti Rekam Jejak Perang AS: Hampir Tak Pernah Menang Selama 42 Tahun
Ketegangan Politik Israel Berlanjut
Perkembangan ini memperlihatkan semakin tajamnya persaingan politik di Israel setelah pemilu parlemen. Di satu sisi, kubu Netanyahu berusaha mempertahankan pengaruhnya, sedangkan kelompok oposisi membutuhkan dukungan tambahan untuk membentuk pemerintahan.
Baca: IRGC Klaim Gempur Markas Komandan AS di Kuwait, Hanggar Drone Terbakar
Pada saat bersamaan, peningkatan perolehan kursi partai-partai Arab membuka peluang bagi kelompok tersebut untuk memainkan peran lebih besar dalam proses politik nasional.
Desakan Ben Gvir agar para pemimpin partai Arab ditangkap pun menambah ketegangan di tengah proses penghitungan suara dan negosiasi politik yang belum tuntas.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil akhir pemilu, temuan penyelidikan dugaan pelanggaran, serta kemampuan masing-masing blok politik membangun dukungan mayoritas di parlemen Israel. (SM)
