Asap Karhutla Kalimantan Tembus Filipina, Pakar Ungkap Peran Angin dan El Nino
KANALSUMATERA.com - Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali berdampak hingga ke negara tetangga. Asap dari sejumlah titik kebakaran di Kalimantan dilaporkan terbawa angin hingga mencapai kawasan Metro Manila, Filipina. Rabu (02/09/2026).
Fenomena tersebut mendapat perhatian dari ilmuwan atmosfer Filipina. Profesor meteorologi dari UP Institute of Environmental Science and Meteorology, Dr Gerry Bagtasa, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer dan arah angin menjadi faktor utama yang memungkinkan asap bergerak melintasi wilayah yang cukup jauh.
Berdasarkan pengamatan citra satelit, terdapat titik api aktif di sejumlah wilayah Kalimantan bagian barat dan selatan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu bersamaan dengan pola angin yang bergerak menuju Filipina.
Baca: AS Serang Dua Kapal Tanker Iran, Kebijakan “Tanker for Tanker” Trump Mulai Diterapkan
"Tampaknya, kebakaran di sekitar Kalimantan memang cukup besar dalam beberapa hari terakhir. Kebetulan pula, terjadi fenomena angin lintas khatulistiwa," ujar Bagtasa, dikutip dari ABS-CBN News.
Menurut Bagtasa, angin dari belahan bumi selatan bergerak melintasi Laut Jawa dan Laut China Selatan sebelum mencapai sejumlah wilayah Filipina. Pergerakan tersebut memungkinkan partikel asap dari kebakaran di Kalimantan ikut terbawa ke wilayah negara tersebut.
Baca: Iran Serang Kamp Titin di Yordania dengan Rudal Balistik, IRGC Klaim Banyak Tentara AS Tewas
"Angin bergerak dari belahan bumi selatan melewati wilayah ini (Laut Jawa dan Laut China Selatan), lalu mengarah ke berbagai wilayah di Filipina. Jadi, kita bisa melihat dari citra satelit bahwa asap kebakaran hutan dari Kalimantan itu sampai ke Filipina," tambahnya.
Bukan Semata Polusi dari Manila
Bagtasa menilai memburuknya kualitas udara di Metro Manila tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan emisi kendaraan dan aktivitas industri setempat.
Baca: Taliban Rayu AS Investasi Mineral Afghanistan Senilai Rp17.732 Triliun
Menurutnya, angin yang cukup kuat biasanya membantu menyebarkan polutan yang berasal dari sumber lokal. Namun, kondisi atmosfer saat ini justru memungkinkan polutan dari wilayah yang lebih jauh ikut masuk ke Filipina.
Salah satu faktor yang berperan adalah angin muson barat daya atau Habagat. Pola angin tersebut membawa massa udara dari kawasan Indonesia menuju Filipina.
Baca: Intelijen Ukraina Ungkap 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia
Kondisi Habagat disebut semakin kuat akibat keberadaan dua topan yang berada di sekitar timur Taiwan dan selatan Hong Kong. Fenomena El Nino juga turut memengaruhi kondisi atmosfer yang memungkinkan asap bergerak lebih jauh.
"Topan dan El Nino ini menarik angin Habagat dan bersamaan dengan itu, emisi dari kebakaran di Kalimantan," kata Bagtasa dikutip dari South China Morning Post.
Minim Hujan Membuat Asap Lebih Mudah Menyebar
Baca: Dan Driscoll Mundur dari Sekretaris Angkatan Darat AS di Tengah Konflik dengan Hegseth
Selain arah angin, minimnya curah hujan dan rendahnya kelembapan di sepanjang jalur pergerakan asap turut menjadi faktor penting.
Bagtasa menjelaskan, kondisi tersebut membuat asap yang terbawa angin tidak banyak mengalami hambatan. Akibatnya, partikel polutan dapat menyebar hingga wilayah yang lebih jauh dari sumber kebakaran.
Baca: Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
Ia juga memperkirakan terdapat interaksi sejumlah sistem cuaca di bagian utara Filipina. Dua sistem cuaca yang berada berdekatan dapat saling berputar dan memperlambat pergerakannya sehingga pola angin bertahan lebih lama.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsentrasi partikel di udara Filipina, meskipun polusi dari aktivitas lokal juga tetap memberikan kontribusi.
Kabut Asap Diprediksi Bertahan Sepekan
Baca: Trump Klaim Kendali Minyak Venezuela, Rodriguez Tegaskan Sumber Daya Tetap Berdaulat
Dampak kabut asap kini dirasakan di kawasan Metro Manila. Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam setempat memperingatkan kualitas udara berada pada kategori "sangat tidak sehat".
Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan, termasuk menggunakan masker N95 ketika beraktivitas di luar ruangan.
Baca: AS Pertimbangkan Ubah Sikap soal Falkland, Inggris Jadi Sorotan Trump
Bagtasa memperkirakan kondisi kabut asap di Metro Manila masih dapat bertahan hingga sekitar satu pekan. Ia juga menyebut fenomena asap dari Indonesia yang mencapai Filipina bukan kejadian baru.
Pada 2015, asap kebakaran dari Indonesia juga pernah mencapai Filipina. Menurut Bagtasa, kondisi tersebut bukan merupakan bencana alam, melainkan berkaitan dengan aktivitas manusia yang memicu kebakaran hutan dan lahan.
Peristiwa terbaru ini kembali menunjukkan bahwa dampak karhutla Indonesia tidak berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Ketika kondisi angin, kelembapan, curah hujan, dan sistem cuaca mendukung, asap dapat bergerak melintasi batas negara dan memengaruhi kualitas udara di kawasan Asia Tenggara. (SM)
