AS Serang Dua Kapal Tanker Iran, Kebijakan “Tanker for Tanker” Trump Mulai Diterapkan
KANALSUMATERA.com - WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker yang disebut milik pemerintah Iran pada Selasa (01/09/2026) waktu setempat. Serangan tersebut menjadi bagian dari operasi militer Washington yang kembali menyasar sejumlah target di Iran.
Dua kapal tanker itu diserang ketika berada di perairan lepas pantai Iran. Aksi tersebut disebut sebagai penerapan kebijakan baru pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dikenal dengan istilah “tanker for tanker”.
Laporan mengenai serangan tersebut pertama kali diberitakan Axios dengan mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Informasi itu kemudian dilaporkan Anadolu Agency pada Rabu (02/09/2026).
Baca: Indonesia dan 7 Negara Arab-Muslim Dukung Langkah Inggris Tekan Israel
Serangan terhadap kapal tanker Iran ini menjadi perkembangan baru dalam eskalasi konflik AS-Iran. Untuk pertama kalinya, Washington menjadikan kapal tanker Iran sebagai sasaran dalam tindakan balasan atas serangan terhadap kapal yang melintas di kawasan strategis Selat Hormuz.
Sebelumnya, operasi AS terhadap kapal-kapal Iran lebih dikaitkan dengan upaya menegakkan blokade laut. Namun, serangan terbaru menunjukkan perubahan pendekatan Washington dalam menghadapi ancaman terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Baca: Teluk Persia Memanas, Iran Peringatkan Keras Pergerakan Militer Korea Selatan
AS Klaim Serangan untuk Lindungi Pelayaran
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS dan Iran. Jalur perairan tersebut memiliki peran penting bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Menurut pejabat AS yang dikutip Axios, kebijakan “tanker for tanker” disetujui Trump sebagai langkah untuk mencegah Iran menyerang kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Baca: Malaysia Tetapkan Darurat Asap, Kemlu RI Tegaskan Penanganan Karhutla Terus Dikebut
Dalam serangan tersebut, drone tempur AS disebut meluncurkan rudal yang menghantam bagian ruang mesin kedua kapal tanker Iran.
Kedua kapal tersebut dilaporkan sedang berlabuh di lepas pantai Iran, tepatnya di sebelah utara garis blokade yang diberlakukan oleh angkatan laut AS.
Baca: Trump Tagih Eropa, Ratusan Miliar Dolar Bantuan Ukraina Bakal Diminta Kembali
Serangan terhadap kapal tanker itu juga berlangsung di tengah meningkatnya intensitas operasi militer AS terhadap sejumlah sasaran Iran.
Sekitar 100 Target Iran Diserang
Pejabat AS menyebut sekitar 100 sasaran Iran menjadi target serangan pada Selasa (1/9/2026).
Baca: Pengadilan Filipina Terbitkan Surat Perintah Tangkap Sara Duterte, Kasus Ancam Presiden Jadi Sorotan
Sasaran tersebut mencakup fasilitas pertahanan udara, sistem radar, aset penyebar ranjau, fasilitas komunikasi, peluncur rudal jelajah antikapal hingga peluncur drone tempur milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Komando Pusat AS (CENTCOM) membenarkan adanya gelombang serangan terbaru. Menurut CENTCOM, operasi tersebut diarahkan terhadap unit-unit IRGC yang dinilai mengancam aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Baca: Volkswagen Siapkan PHK 100.000 Karyawan, Tarif Trump dan China Jadi Tekanan
Washington menyatakan operasi itu merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran internasional.
Seorang pejabat AS bahkan menyebut serangan tersebut telah melemahkan kemampuan Iran dan "memberikan waktu setidaknya satu bulan" dengan tingkat ancaman yang lebih rendah bagi kapal-kapal komersial.
Ketegangan AS-Iran Terus Meningkat
Baca: Prabowo di Depan Putin Tegaskan Indonesia Tetap Non-Blok dan Hormati Semua Kekuatan
Serangan terbaru tersebut terjadi setelah AS kembali menggempur sejumlah target Iran sejak akhir pekan. Iran kemudian memberikan respons dengan menyerang fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat Selat Hormuz semakin menjadi pusat ketegangan antara Washington dan Teheran.
Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142
Kawasan itu sebagian besar telah diblokade selama konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Perselisihan mengenai akses dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz kini menjadi salah satu isu utama dalam konfrontasi kedua negara.
Dengan serangan langsung terhadap dua kapal tanker Iran, kebijakan AS terhadap aktivitas maritim Teheran memasuki fase baru. Washington tidak hanya berupaya mempertahankan blokadenya, tetapi juga mulai menargetkan aset Iran sebagai respons terhadap ancaman terhadap kapal-kapal komersial.
Perkembangan ini berpotensi semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama jika Iran kembali melakukan serangan balasan terhadap aset maupun kapal yang terkait dengan Amerika Serikat. (SM)
