Iran Ancam Hancurkan Pusat Data dan Fasilitas AI Terkait AS Jika Perang Berlanjut
KANALSUMATERA.com - TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah pejabat senior Iran memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pusat data, fasilitas kecerdasan buatan (AI), serta infrastruktur teknologi yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah apabila perang kembali pecah. Jumat (23/10/2026).
Ancaman tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, saat berbicara melalui stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV. Pernyataannya dilaporkan Al Arabiya pada Kamis (22/10/2026) dan dikutip dalam pemberitaan Jumat (23/10/2026).
Rezaei menyebut infrastruktur teknologi yang terkait dengan AS di kawasan tersebut memiliki nilai investasi lebih dari US$2 triliun. Menurutnya, aset-aset itu berpotensi masuk dalam daftar sasaran apabila Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Baca: Parlemen Malaysia Sindir Indonesia soal Asap dengan Bahasa Jawa: Pak Prabowo, Pripun Kabare?
"Nadi ekonomi Amerika di kawasan ini mengalir melalui wilayah kita," ujar dalam pernyataannya, merujuk pada investasi besar AS dalam bentuk pusat data dan fasilitas AS di seluruh kawasan Timur Tengah.
Ia juga menegaskan bahwa infrastruktur tersebut sejauh ini belum dimasukkan ke dalam daftar target Iran.
Baca: Kabut Asap Karhutla Indonesia Memburuk, Sekolah di Johor Malaysia Ditutup Lima Hari
"Sejauh ini, kita belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar target kita," ucapnya.
Namun, Rezaei memperingatkan bahwa situasi dapat berubah jika konflik militer kembali berlangsung.
"Tetapi, jika perang pecah, banyak dari kabel, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan, dan berbagai situs lainnya akan hancur," tegas Rezaei dengan nada memperingatkan.
Baca: Demo Paris Berujung Rusuh, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terlibat
Iran Singgung Kabel Internet Bawah Laut
Ancaman Iran tidak hanya berkaitan dengan pusat data dan fasilitas AI. Infrastruktur komunikasi, termasuk kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz, juga menjadi perhatian dalam perkembangan konflik tersebut.
Baca: Selat Hormuz Memanas, Negara Arab Siapkan Kesepakatan Jalur Pelayaran Bersama
Sebelumnya, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menyatakan bahwa Teheran berpotensi mengungkap target dan persenjataan baru apabila konflik dengan AS terus berlanjut.
"Tujuh kabel internet utama membentang di bawah Selat Hormuz," ujar juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, dalam pernyataannya, seperti Anadolu Agency, Selasa (20/10).
Mohebbi tidak secara langsung menyatakan bahwa Iran akan menyerang kabel-kabel tersebut. Meski demikian, pernyataannya menyoroti posisi strategis Selat Hormuz bagi lalu lintas komunikasi dan data komersial internasional.
Baca: Iran Serang Kapal Nirawak AS di Selat Hormuz, Konflik Kian Memanas
"Kami hanya ingin mereka mengetahui bahwa target-target baru akan diungkap. Senjata-senjata baru pun akan diperkenalkan," sebutnya, sembari menegaskan tekad Iran untuk menyingkirkan apa yang dia sebut sebagai sisa-sisa kekuatan AS dari kawasan tersebut.
Trump Beri Sinyal Situasi Bisa Memanas
Baca: Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Bandara Miami, Tabrak Kendaraan hingga Terbakar
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan pernyataan yang menambah perhatian terhadap kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran.
Dalam pernyataannya pada Kamis (22/10/2026), Trump mengisyaratkan bahwa perkembangan terkait Iran dapat terjadi dalam waktu dekat. Ia juga menyatakan posisi AS cukup kuat, baik dari sisi militer maupun keuangan.
Situasi ini berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa kebuntuan diplomatik dapat membuka peluang bagi kembali pecahnya konflik bersenjata.
Baca: Malaysia Tetapkan Darurat Asap, Kemlu RI Tegaskan Penanganan Karhutla Terus Dikebut
Jika ancaman terhadap infrastruktur teknologi benar-benar diwujudkan, dampaknya berpotensi meluas melampaui sektor militer. Pusat data, fasilitas AI, dan kabel komunikasi merupakan bagian penting dari ekosistem digital yang mendukung layanan internet, komputasi awan, serta aktivitas ekonomi lintas negara.
Meski demikian, ancaman yang disampaikan para pejabat Iran tersebut belum berarti seluruh fasilitas yang disebutkan telah menjadi sasaran serangan baru. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah militer dan diplomatik yang diambil oleh pihak-pihak terkait. (SM)
