Trump Tagih Eropa, Ratusan Miliar Dolar Bantuan Ukraina Bakal Diminta Kembali
KANALSUMATERA.com - WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekan negara-negara Eropa terkait pembiayaan perang Rusia-Ukraina. Trump menyatakan Washington akan meminta Eropa mengganti biaya bantuan militer dan amunisi yang sebelumnya diberikan Amerika Serikat kepada Ukraina.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosialnya pada Kamis (03/09/2026). Ia menilai negara-negara Eropa seharusnya ikut menanggung biaya bantuan yang selama ini diberikan Washington kepada Ukraina dan NATO.
"Ratusan miliar dolar diberikan kepada Ukraina dan NATO, secara cuma-cuma, yang akan dibayar Eropa - jika mereka hanya diminta. Tapi kami akan meminta uang itu, meskipun agak terlambat,” kata Trump lewat akun Social Truth pribadinya pada Kamis (03/09/2026).
Baca: Inggris Murka, Anak Netanyahu Ikut Campur Sengketa Falkland dengan Argentina
Trump tidak merinci negara Eropa mana saja yang nantinya akan diminta membayar kembali dana tersebut. Namun, tuntutan itu mempertegas sikap pemerintahannya yang ingin menggeser lebih banyak beban pembiayaan pertahanan Ukraina kepada sekutu Eropa.
AS Klaim Telah Gelontorkan Puluhan Miliar Dolar
Baca: Iran Ancam Balas Serangan AS di Pesta Pernikahan, 4 Orang Tewas
Berdasarkan data yang dikutip dari laporan sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS menyebut Washington telah menyediakan bantuan militer sekitar 66,9 miliar dolar AS kepada Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022.
Jika dihitung sejak konflik Rusia-Ukraina dimulai pada 2014, total bantuan militer AS kepada Ukraina disebut mencapai sekitar 69,7 miliar dolar AS.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menanggung biaya dukungan militer terhadap Kyiv.
Baca: Pengadilan Filipina Terbitkan Surat Perintah Tangkap Sara Duterte, Kasus Ancam Presiden Jadi Sorotan
Trump selama ini konsisten mempertanyakan besarnya kontribusi Amerika Serikat dalam mendukung Ukraina. Pemerintahannya juga mendorong negara-negara Eropa agar mengambil porsi lebih besar dalam pembiayaan pertahanan dan bantuan untuk Kyiv.
Persoalan Bantuan Muncul di Tengah Tekanan Stok Senjata AS
Baca: Netanyahu Klaim Rezim Mojtaba Khamenei di Iran di Ambang Kehancuran
Tuntutan Trump datang ketika Amerika Serikat juga menghadapi persoalan terkait persediaan amunisi dan kebutuhan meningkatkan produksi senjata.
Dalam pernyataan terpisah, Trump mengatakan sebagian amunisi Amerika kini diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Ia menegaskan penjualan senjata kepada negara sekutu akan kembali dilakukan.
"Kami mengambilnya untuk diri kami sendiri, AS, alih-alih menjualnya kepada pihak lain. Namun, penjualan kepada sekutu akan segera dimulai kembali," ujar Trump.
Baca: JD Vance Tegaskan Konflik AS-Iran Bukan Perang, Negosiasi Masih Buntu
Kebijakan tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan Washington dalam mengelola persediaan senjata, terutama setelah Amerika Serikat terlibat dalam konflik lain yang meningkatkan kebutuhan amunisi.
Sebelumnya, AS dan NATO juga menjalankan skema Prioritised Ukraine Requirements List (PURL), yang memungkinkan negara-negara Eropa membiayai pembelian persenjataan produksi Amerika untuk kemudian dikirim ke Ukraina.
Baca: Netanyahu Tegaskan Pasukan Israel Tak Mundur dari Gaza, Klaim Kuasai 60 Persen Wilayah
Utusan Trump Bergerak untuk Cari Jalan Keluar Perang
Di tengah polemik pembiayaan tersebut, diplomasi Amerika Serikat terkait perang Rusia-Ukraina juga terus bergerak.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner dijadwalkan melakukan perjalanan ke Moskow dan Kyiv untuk membahas kemungkinan penyelesaian perang.
Baca: Prabowo di Depan Putin Tegaskan Indonesia Tetap Non-Blok dan Hormati Semua Kekuatan
Langkah diplomatik itu menambah dimensi baru dalam kebijakan Trump terhadap Ukraina. Di satu sisi Washington mendorong Eropa mengambil porsi pembiayaan lebih besar, sementara di sisi lain pemerintahan Trump berusaha membuka kembali jalur negosiasi untuk mengakhiri perang.
Bagi Eropa, tuntutan pembayaran kembali tersebut berpotensi menjadi isu sensitif karena dukungan terhadap Ukraina selama ini merupakan bagian penting dari strategi keamanan kawasan menghadapi Rusia.
Baca: Serangan AS di Iran Tewaskan Sedikitnya 19 Orang, Korban Luka Capai 142
Dengan demikian, pernyataan terbaru Trump bukan sekadar soal tagihan bantuan. Kebijakan tersebut berpotensi mengubah pola pembagian beban antara Amerika Serikat dan Eropa dalam menghadapi perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung. (SM)
